Benjamin Franklin, yang oleh filsuf Skotlandia David Hume disebut sebagai “sastrawan besar pertama,” adalah perwujudan ideologi rasionalitas manusia a la gerakan Pencerahan. Praktis namun idealistis, tekun dan sangat sukses, Franklin merekam masa-masa awal kehidupannya dalam autobiografinya. Sebagai penulis, pengusaha percetakan, penerbit, ilmuwan, dermawan dan diplomat, ia adalah tokoh paling terkenal dan dihormati di zamannya. Franklin adalah orang Amerika pertama yang sukses berswadaya, seorang demokrat miskin yang lahir di era aristokrasi. Berkat keteladanannya era tersebut akhirnya ditinggalkan masyarakat.
Franklin lahir di Boston, Massachussets, pada tanggal 17 Januari 1706. Ayahnya Josiah Franklin adalah seorang pembuat sabun dan lilin yang menikah dua kali. Ia adalah anak kelimabelas dari tujuhbelas orang anak yang dimiliki Josiah. Pada usia sepuluh tahun Franklin diberhentikan dari sekolah dasar oleh ayahnya karena faktor kekurangan biaya. Ia juga sempat kembali bersekolah di Boston Latin School tetapi tidak tamat. Kemudian ia diperbantukan di perusahaan percetakan milik kakaknya James yang mempublikasikan The New England Courant. Dalam banyak hal, dampak Pencerahan terpancar dalam kehidupan Franklin yang berbakat ini. Ia otodidak namun melahap tulisan-tulisan John Locke, Lord Shaftesbury, Joseph Addison, dan para penulis Pencerahan lainnya.
Pada suatu saat ketika Franklin berusia tujuhbelas tahun ia dan kakaknya James bertengkar dan akhirnya ia pergi meninggalkan rumah dan bahkan kota Boston. Pada awalnya Franklin menuju ke New York, dan kemudian ke Philadelphia di mana ia tiba pada bulan Oktober tahun 1723. Di kota itu ia bekerja di sebuah percetakan. Beberapa bulan kemudian Franklin pergi ke London untuk membeli mesin ketik atas permintaan dari Gubernur Pennsylvania William Keith yang berjanji akan membiayainya kembali ke toko percetakannya, namun saat masih berada di London Keith membatalkan perjanjiannya. Selama berada di Inggris (1724-26), Franklin bekerja di berbagai perusahaan percetakan sampai uang tabungannya cukup untuk membawa ia kembali ke Philadelphia. Franklin kemudian membuka percetakan miliknya sendiri pada tahun 1729. Bisnisnya ini berjalan lancar dan dua tahun berikutnya dia mulai menerbitkan Pennsylvania Gazette, salah satu koran yang paling berpengaruh di zamannya. Tahun 1730 Benjamin Franklin menikah dengan Deborah Read Rogers putri seorang pengusaha di Philadelphia. Mereka memiliki tiga orang anak, antara lain ; William, Francis dan Sarah.
Pada tahun 1731 Franklin mendirikan perpustakaan keliling pertama di Amerika dan juga unit pemadam kebakaran (Union Fire Company) pertama di Pennsylvania (1736). Tahun 1732 dia mulai menulis dan menerbitkan Poor Richard's Almanack yang adalah suatu koleksi tahunan yang memuat pepatah-pepatah tentang kehidupan, cinta dan politik. Franklin bekerja sebagai bendahara dan kemudian sebagai wakil rakyat di majelis umum Pennsylvania sejak tahun 1736 hingga 1757. Ia juga ditunjuk sebagai Direktur Umum Kantor Pos Philadelphia pada 1737. Saat menjabat sebagai Direktur Umum Pos Franklin mengorganisasi sistem pos yang menjadi acuan pos umum.
Setelah sebelumnya ia mendirikan debating club yang berkembang menjadi American Philosophical Society dimana ia menjadi ketuanya, pada tahun 1743 Franklin mulai memprakarsai berdirinya The Academy and College of Philadelphia dan ia ditunjuk untuk mengepalainya pada tahun 1749. Akademi ini resmi dibuka pada tahun 1751, dan kemudian menjadi University of Pennsylvania. Tahun 1747 ia memulai eksperimen dengan dukungan hipotesa bahwa petir merupakan suatu gejala listrik. Hal ini terbukti dengan percobaannya dengan layangan dan akhirnya ia menciptakan penangkal petir. Catatan mengenai penelitiannya ini dibukukan dan diterbitkan di London pada tahun 1751 dengan judul Experiments and Observations on Electricity. Beberapa penemuan lainnya adalah ; kompor Franklin, lensa bifocal (lensa dengan fokus ganda), pistol cahaya, selang kateter untuk saluran urin, dan alat musik armonika.
Saat berada dalam Kongres Albany (1754) sebagai delegasi Pennsylvania, Franklin mengajukan sebuah opsi tentang penyatuan ke-13 koloni Inggris di Amerika untuk berotonomisasi, yang mana opsi ini diterima oleh sebagian besar delegasi namun akhirnya ditolak oleh majelis wilayah koloni dan pemerintah Inggris. Ada pun ke-13 koloni tersebut, yaitu :
Koloni New England
* Propinsi New Hampshire
* Propinsi Massachusetts Bay
* Koloni Rhode Island
* Koloni Connecticut
Koloni bagian tengah
* Propinsi New York
* Propinsi New Jersey
* Propinsi Pennsylvania
* Koloni Delaware (sebelum 1776, bernama the Lower Counties on Delaware)
Koloni bagian selatan
* Propinsi Maryland
* Koloni Virginia
* Propinsi North Carolina
* Propinsi South Carolina
* Propinsi Georgia
Setelah masa jabatannya sebagai wakil rakyat di majelis umum berakhir. Franklin diutus ke Inggris sebagai delegasi Legislatif Pennsylvania di mana ia disambut baik oleh anggota masyarakat ilmuwan dan para ahli sastra yang menghargai karyanya. Setelah kembali ke Philadelphia tahun 1762, dia terpilih kembali sebagai wakil rakyat. Pada tahun 1771 Franklin mulai menuliskan lima bab pertama autobiografinya, dan mulai menuliskannya kembali tigabelas tahun kemudian yaitu pada tahun 1784 hingga 1785, dan terakhir pada tahun 1788.
Franklin sangat mendukung pandangan yang sudah umum pada waktu itu bahwa Inggris harus melonggarkan kendalinya terhadap masyarakat koloni Amerika dan mengizinkan mereka memiliki peran pemerintahan yang lebih besar untuk mengurus negerinya sendiri. Saat menjadi delegasi dalam Kongres Kontinental (Continental Congress) atau kongres kedua, opsinya mengenai penyatuan ke-13 koloni kembali mendapat tanggapan yang positif oleh hampir seluruh delegasi, dan melalui perjuangan yang cukup alot akhirnya seluruh delegasi menyetujuinya hingga diputuskanlah sebuah petisi tentang otonomisasi daerah-daerah koloni Inggris di Amerika.
Pada tahun 1774 Franklin pergi ke Inggris untuk mengajukan petisi tersebut kepada Raja George III atas nama rakyat jajahan dan Kongres Kontinental yang baru terbentuk. Raja dan majelis tuan tanah menolak petisi tersebut, dan pada saat dia kembali ke Philadelphia, Perang Revolusi Amerika telah mulai.
Dia juga membantu Thomas Jefferson dalam merancang draf Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence), yang juga turut ditandatanganinya pada tanggal 4 Juli 1776. Saat itulah ke-13 daerah koloni Inggris di Amerika memproklamirkan kemerdekaannya dan membentuk sebuah negara baru dengan nama The United States of America (Amerika Serikat).
Pada tahun 1776 saat perang masih bergolak Franklin ditunjuk sebagai duta besar Amerika Serikat untuk Perancis. Dalam tugasnya ini ia berhasil meyakinkan pemerintah Perancis agar mau mendukung Amerika Serikat, baik dari segi persenjataan maupun persediaan makanan.
Setelah perang, Franklin terpilih sebagai salah-satu utusan Amerika Serikat untuk merundingkan pakta damai dengan Inggris di Paris pada tahun 1782 hingga 1783. Perundingan ini menghasilkan suatu perjanjian yang dirumuskan dalam The Treaty of Paris yang ditandatangani juga oleh Franklin. Ia kembali ke Amerika Serikat dari Perancis pada tahun 1785 dan dua tahun kemudian menjadi anggota Konvensi Konstitusi di mana ia juga turut merancang draf dan menandatangani The Constitution of the United States (Konstitusi Amerika Serikat). Pada tahun 1787 Franklin terpilih sebagai President of the Pennsylvania.
Pada tanggal 17 April 1790 Benjamin Franklin meninggal dunia di usianya yang ke-84 tahun. Jenazah Franklin di semayamkan di Virgina lalu dibawa ke Boston dan kemudian ke Paris. Pemakamannya di Philadelphia menarik perhatian pelayat yang sangat besar jumlahnya.
Setahun setelah kematian Benjamin Franklin, autobiografinya yang berjudul “Memoires de la Vie Privee” dipublikasikan dalam bentuk buku untuk pertama kalinya oleh anaknya William di Paris pada bulan Maret. Versi terjemahan awalnya yang dalam bahasa Inggris, “The Private Life of the Late Benjamin Franklin, LL.D. Originally Written By Himself, And” di publikasikan di London pada tahun 1793. Kini lebih dikenal dengan The Autobiography of Benjamin Franklin.
Berikut ini adalah karya-karya tulis Benjamin Franklin :
· Silence Dogood, No 1 - 2 April 1722
· Silence Dogood, No 2 - 16 April 1722
· Silence Dogood, No 3 - 30 April 1722
· Silence Dogood, No 4 - 14 Mei 1722
· Silence Dogood, No 5 - 28 Mei 1722
· Silence Dogood, No 6 - 11 Juni 1722
· Silence Dogood, No 7 - 25 Juni 1722
· Silence Dogood, No 8 - 9 Juli 1722
· Silence Dogood, No 9 - 23 Juli 1722
· Silence Dogood, No 10 - 13 Agustus 1722
· Silence Dogood, No 11 - 20 August 1722
· Silence Dogood, No 12 - 10 September 1722
· Silence Dogood, No 13 - 24 September 1722
· Silence Dogood, No 14 - 8 Oktober 1722
· Hugo Grim on Silence Dogood - 3 Desember 1722
· Rules for The New-England Courant - 28 Januari 1722/3
· To "Your Honour" - 4 Februari 1722/3
· On Titles of Honour - 18 Februari 1722/3
· High Tide in Boston - 4 Maret 1722/3
· Timothy Wagstaff to Old Master Janus - 15 April 1723
· Abigail Twitterfield to Honost Doctor Janus - 8 Juli 1723
· A Dissertation on Liberty and Necessity, Pleasure and Pain - 1725
· Plan of Conduct - 1726
· Poor Richard's Almanack - 1732 to 1757
· Constitutions of the Free-Masons - 1734
· Experiments and Observations on Electricity - 1751
· The Way to Wealth - 1757
· Rules by Which a Great Empire May Be Reduced to a Small One - 1773
· An Edict by the King of Prussia - 1773
· Abridgment of the Book of Common Prayer.
· Memoires de la Vie Privee - 1793
Wednesday, May 12, 2010
Saturday, February 13, 2010
Empirisme Ketuhanan
Kasih karunialah yg menarikku keluar dari dlm penjara bernama Labirin itu...
Menuntun hati dan pikiranku melewati gerbang pengertian...
'Bahwa ada Tuhan, bahwa ada Juru Selamat juga'...
Seperti kata bundaku...
Menuntun hati dan pikiranku melewati gerbang pengertian...
'Bahwa ada Tuhan, bahwa ada Juru Selamat juga'...
Seperti kata bundaku...
Saturday, January 9, 2010
KISAH BUKIT PASIR
Mereka menggali...bukit kecil dekat sungai dengan air yang hanya sebatas mata kaki tempatku belajar berlari...tanah berpasir yang tertutup ilalang, pelepah kelapa dan dedaunan kering yang jatuh dari dahan pepohonan mangga dan dari cabang-cabang halus rumpun pohon bambu yang sudah tumbuh di situ sejak zaman penjajahan Jepang...Tempat bapakku menyendiri untuk menyatukan hati dan pikirannya...
Mereka terus menggali...hingga burung-burung kuning...hijau...merah...coklat...hitam yang ku kenal sejak kedatanganku yang pertama dengan sepatu bot mungil berwarna biru itu mengusik telingaku dengan nyanyian ratapan mereka...Jauh-jauh mereka mendatangiku...setelah kemerduan kicauan irama pengantar suasana mereka sudah tidak lagi digubris bapakku yang kini tinggal bersama bumi...
Mereka masih menggali...Satu...dua...tiga pohon kelapa yang oleh bantuan angin telah menaklukkan para pemberani itu tumbang...Salah satunya buntung karena pernah tersambar petir...Pernah sebuah gubuk didirikan di situ...tempat orang yang menghormati bapakku dengan sepenuh hati tinggal...ia dan keluarganya...
Mereka mulai menggila...dan rumpun bambu yang pernah dibuat keriting oleh mortir tentara pusat itu terbabat habis..."Amper..." kata bapakku setiap kali ia mengakhiri kisah itu...Ia dan sekeluarganya nyaris meregang nyawa di rumpun bambu itu saat perang Permesta...
Mereka terus menggila...Pepohonan mangga yang ditanam dan dirawat bapakku sejak kecil hampir habis roboh...beberapa yang masih muda pernah kutanam dengan penuh semangat...
Mereka masih menggila...dan semua kenangan tentang aku dan bapakku di bukit itu akan sepenuhnya sirna dari kenyataan...
jeda...
Mereka terus menggali...hingga burung-burung kuning...hijau...merah...coklat...hitam yang ku kenal sejak kedatanganku yang pertama dengan sepatu bot mungil berwarna biru itu mengusik telingaku dengan nyanyian ratapan mereka...Jauh-jauh mereka mendatangiku...setelah kemerduan kicauan irama pengantar suasana mereka sudah tidak lagi digubris bapakku yang kini tinggal bersama bumi...
Mereka masih menggali...Satu...dua...tiga pohon kelapa yang oleh bantuan angin telah menaklukkan para pemberani itu tumbang...Salah satunya buntung karena pernah tersambar petir...Pernah sebuah gubuk didirikan di situ...tempat orang yang menghormati bapakku dengan sepenuh hati tinggal...ia dan keluarganya...
Mereka mulai menggila...dan rumpun bambu yang pernah dibuat keriting oleh mortir tentara pusat itu terbabat habis..."Amper..." kata bapakku setiap kali ia mengakhiri kisah itu...Ia dan sekeluarganya nyaris meregang nyawa di rumpun bambu itu saat perang Permesta...
Mereka terus menggila...Pepohonan mangga yang ditanam dan dirawat bapakku sejak kecil hampir habis roboh...beberapa yang masih muda pernah kutanam dengan penuh semangat...
Mereka masih menggila...dan semua kenangan tentang aku dan bapakku di bukit itu akan sepenuhnya sirna dari kenyataan...
jeda...
Sunday, December 20, 2009
AND'S DOOM
Aku adalah angin yang berbicara kepada para roh rekan-rekan seperjuangan sang Sowl...
Dengarkanlah nyanyian si Haart yang dituntun Brein melalui alunan irama permainan harpanya yang dengan perantaraan angin mengalir menyusuri lorong-lorong di kota Haartstadt...Tak terbendung!...Perpaduannya menghantam dengan keras punggung sang Dan...
Dan dengarkanlah juga pidato si Brein yang berapi-api yang disusunnya bersama dengan Haart kekasihnya itu dengan perantaraan kalbu yang memecah kesunyian jalanan kota Breinstaadt...Hentakan suaranya membumi-hanguskan tubuh sang Dan...
Mereka sejoli...seperti si Anglo dan si Saxon...
Haart mendekap Brein lalu menarilah mereka sambil berjinjit-jinjit mengikuti irama scerzo yang dilantunkan para roh dengan langkah yang cepat sambil bergandengan tangan meniti puing-puing reruntuhan penggalan tubuh sang Dan yg tadinya berdiri kokoh...angkuh...
Will...si hantu itu...Ia terus bertindak...kasihan...Ia seperti raja-raja di Eropa yang bertempur dalam Perang Salib...Ia seperti gajah...Ia masih terus sibuk merobohkan dengan palu sisa-sisa tubuh sekarat sang Pembagi Dua Alam...Haartstadt dan Breinstadt...
Sementara sang Sowl mengamati ketiganya dari tengah-tengah kerumunan roh dengan sorot mata yg berbinar...Suaranya mulai kembali terdengar sesaat sebelum sebuah senyuman tertoreh di wajahnya..."Hmm..."
Ini adalah kata-kata yang mendahului kata Selesai dalam kisah ini...sekaligus mengawali adeganku di dunia angin...
Aku harus membawa pulang si hantu...
Selesai
Dengarkanlah nyanyian si Haart yang dituntun Brein melalui alunan irama permainan harpanya yang dengan perantaraan angin mengalir menyusuri lorong-lorong di kota Haartstadt...Tak terbendung!...Perpaduannya menghantam dengan keras punggung sang Dan...
Dan dengarkanlah juga pidato si Brein yang berapi-api yang disusunnya bersama dengan Haart kekasihnya itu dengan perantaraan kalbu yang memecah kesunyian jalanan kota Breinstaadt...Hentakan suaranya membumi-hanguskan tubuh sang Dan...
Mereka sejoli...seperti si Anglo dan si Saxon...
Haart mendekap Brein lalu menarilah mereka sambil berjinjit-jinjit mengikuti irama scerzo yang dilantunkan para roh dengan langkah yang cepat sambil bergandengan tangan meniti puing-puing reruntuhan penggalan tubuh sang Dan yg tadinya berdiri kokoh...angkuh...
Will...si hantu itu...Ia terus bertindak...kasihan...Ia seperti raja-raja di Eropa yang bertempur dalam Perang Salib...Ia seperti gajah...Ia masih terus sibuk merobohkan dengan palu sisa-sisa tubuh sekarat sang Pembagi Dua Alam...Haartstadt dan Breinstadt...
Sementara sang Sowl mengamati ketiganya dari tengah-tengah kerumunan roh dengan sorot mata yg berbinar...Suaranya mulai kembali terdengar sesaat sebelum sebuah senyuman tertoreh di wajahnya..."Hmm..."
Ini adalah kata-kata yang mendahului kata Selesai dalam kisah ini...sekaligus mengawali adeganku di dunia angin...
Aku harus membawa pulang si hantu...
Selesai
Friday, August 7, 2009
"MONOLOG SCHIZOPHRENIA" Naskah Drama Rohani Kristen (Bahasa Melayu Manado)
Babak I
Setting: Sebuah kamar. Subuh.
(Masuk Iblis. Menarik Barol dengan tali jemuran yang terikat di leher Barol)
(Barol berjalan tertunduk)
(Dengan satu tarikan yang kuat, Iblis menghempaskan Barol ke tempat tidur)
Iblis: Heh, biongo!!!
Ngana ini cuma da ta putar-putar sama deng babi pa de pe kandang.
Co ngana lia ni ngana pe diri ni dia...
Ngana pe hidop...
Samua tu ngana ja baking, nyanda ada yang barguna.
Ngana pe hidop ni dia cuma da abis-abis di mengkhayal jo.
Ngana so beking pastiu pa kita!!!
Ngana pangge-pangge pa kita bermain tentang tu rahasia...kong, saban torang somo dapa depe klimaks...ngana user pa kita.
Salalu bagitu.
Salalu...salalu...memang jago ngana...boleh beking kalah pa kita...
Mar baru ngana le kwa tu da se kalah pa kita no.
Sapa ngana sebenarnya?
(jeda)
Ooo...Ngana Yesus.
Ngana so dapa le pa kita...
Ododododoh...so tai ini...
Pe bogo le kita...ta pi coba le pa Anak Domba Allah...
Pantasan kita gagal-gagal trus kalu pa ngana...memang so dinubuatkan...
Minta ampun jo dang...
Soe!!! Pe soe le...
Eh, tunggu!!!
Ngana bukang Yesus...
Tunggu...tunggu...tunggu...ngana bukang Dia!!!
Nyanda mungkin!!!
Mungkin ngana Santo Petrus...
Aaah iyo...ngana pe hati kan karas sama deng karang...
Hmm...nyanda le no...ngana bukang dia...
Sapa ngana e?!... Sapa ngana e?!... Sapa?!... Oooooooooooooooooo...ta tau...ngana ini titisan Kyupid...Hmmpprrrfffh...
Ato mungkin...Ares!!! Dewa Perang!!! Hahahahahaha...
Sori...cuma baku sedu katu'...
Paling ngana masih penasaran pa kita kang?!
Ngana mo suka tau sapa kita?
Dengar bae-bae.
Kita ini malaikat yang Tuhan da utus!!!
Ta pe nama Peryl.
Sebenarnya ngana orang yang dipilih Tuhan!!!
So ngana tu Yang Diutus!!!
Tuhan ada kase satu misi for ngana.
Ngana musti persatukan bangsa Perancis!!!
Itu ngana pe misi!!! Kong kita yang akan mo tuntun pa ngana.
Mmpppffffhahahahahahahaha...Joan of Ark...hahahahahahahahahaha...ngana Joan, Santa tu yang dari Perancis tu dia?!?!?!? Hahahahahahahahhahahahahahahaha...
Eh, biongo!!! Kalu ngana mo suka tau...ngana ada di pa kita pe kerajaan!!!
Hahahahahaha...so ini tu neraka...hahahahahahahaha...
Barol: Bapa kami dalam kerajaan surga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu...
Iblis: Hahahaha...biar mo berdoa le...so nya' barguna!!!
Barol: Bapa kami dalam kerajaan Allah...
Iblis: Ppppppprrrrfffffffffffhh...blunder...
Barol: Bapa kami yang ada di dalam kerajaan sorga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu jadikanlah...jadikanlah...eh...
Iblis: Hahaaaaahahahaha...Nda klar, ta cabu pa ngana!!!
Barol: Bapa kami dalam kerajaan sorga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu jadilah kehendakmu di bumi seperti di sorga...berikanlah kami pada hari ini makan kami yang secukupnya dan ampunilah kami...akan...segala kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni...
Iblis: Ah, memang biongo ngana!!!
Barol: (menangis) seperti kami juga telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami dan jangan membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat sebab engkaulah...
Iblis: Sebenarnya ngana ini so mati.
Barol: Sebab engkaulah...sebab engkaulah...engkaulah...yang...(terdiam dan menangis)
Iblis: Sori...so dari tadi...mar memang so ngana pe waktu...
Barol: (Melepaskan ikatan tali yang ada di lehernya dan kembali mengambil sikap berdoa) Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Iblis: Capat jo...kita so musti bawa pa ngana skarang.
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Iblis: Hahaaa...
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Suara Ibu: (bernyanyi) Betapa hatiku berterima kasih Yesus
Kau mengasihiku Kau memilikiku
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku jiwa dan ragaku
Sbab tak ku miliki harta kekayaan yang cukup berarti tuk ku persembahkan.
(Iblis lari keluar melalui jendela)
Suara Ibu: (terus bernyanyi) Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidup ku sebagai alatmu seumur hidupku.
(Terdengar suara pintu kamar diketuk)
Ibu: Barol, so boleh bangun jo. Mo pigi ngana nyanda?
Barol...
(Masuk Ibu. Begitu masuk langkahnya terhenti setelah melihat Barol yang adalah anaknya sedang berdoa. Ibu keluar perlahan dan menutup pintu)
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Selesai Babak I
Babak Bonus
Setting: Sebuah kamar. Pagi.
(Barol tertidur di atas tempat tidur)
Suara Iblis: Tunggu ngana!
Suara Barol: Tuhan Yesus. Hahahaaa...
Suara Iblis: Ooo...ba gara pa kita le ngana e...Kiapa, ngana pe kira so apa so tu...
Suara Barol: Tuhan Yesus.
Suara Iblis: Hmm...
Suara Barol: Tuhan Yesus. So kalah ngana blis.
Suara Iblis: Apa? Kalah?
Suara Barol: Tuhan Yesus.
Selesai Babak Bonus
Setting: Sebuah kamar. Subuh.
(Masuk Iblis. Menarik Barol dengan tali jemuran yang terikat di leher Barol)
(Barol berjalan tertunduk)
(Dengan satu tarikan yang kuat, Iblis menghempaskan Barol ke tempat tidur)
Iblis: Heh, biongo!!!
Ngana ini cuma da ta putar-putar sama deng babi pa de pe kandang.
Co ngana lia ni ngana pe diri ni dia...
Ngana pe hidop...
Samua tu ngana ja baking, nyanda ada yang barguna.
Ngana pe hidop ni dia cuma da abis-abis di mengkhayal jo.
Ngana so beking pastiu pa kita!!!
Ngana pangge-pangge pa kita bermain tentang tu rahasia...kong, saban torang somo dapa depe klimaks...ngana user pa kita.
Salalu bagitu.
Salalu...salalu...memang jago ngana...boleh beking kalah pa kita...
Mar baru ngana le kwa tu da se kalah pa kita no.
Sapa ngana sebenarnya?
(jeda)
Ooo...Ngana Yesus.
Ngana so dapa le pa kita...
Ododododoh...so tai ini...
Pe bogo le kita...ta pi coba le pa Anak Domba Allah...
Pantasan kita gagal-gagal trus kalu pa ngana...memang so dinubuatkan...
Minta ampun jo dang...
Soe!!! Pe soe le...
Eh, tunggu!!!
Ngana bukang Yesus...
Tunggu...tunggu...tunggu...ngana bukang Dia!!!
Nyanda mungkin!!!
Mungkin ngana Santo Petrus...
Aaah iyo...ngana pe hati kan karas sama deng karang...
Hmm...nyanda le no...ngana bukang dia...
Sapa ngana e?!... Sapa ngana e?!... Sapa?!... Oooooooooooooooooo...ta tau...ngana ini titisan Kyupid...Hmmpprrrfffh...
Ato mungkin...Ares!!! Dewa Perang!!! Hahahahahaha...
Sori...cuma baku sedu katu'...
Paling ngana masih penasaran pa kita kang?!
Ngana mo suka tau sapa kita?
Dengar bae-bae.
Kita ini malaikat yang Tuhan da utus!!!
Ta pe nama Peryl.
Sebenarnya ngana orang yang dipilih Tuhan!!!
So ngana tu Yang Diutus!!!
Tuhan ada kase satu misi for ngana.
Ngana musti persatukan bangsa Perancis!!!
Itu ngana pe misi!!! Kong kita yang akan mo tuntun pa ngana.
Mmpppffffhahahahahahahaha...Joan of Ark...hahahahahahahahahaha...ngana Joan, Santa tu yang dari Perancis tu dia?!?!?!? Hahahahahahahahhahahahahahahaha...
Eh, biongo!!! Kalu ngana mo suka tau...ngana ada di pa kita pe kerajaan!!!
Hahahahahaha...so ini tu neraka...hahahahahahahaha...
Barol: Bapa kami dalam kerajaan surga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu...
Iblis: Hahahaha...biar mo berdoa le...so nya' barguna!!!
Barol: Bapa kami dalam kerajaan Allah...
Iblis: Ppppppprrrrfffffffffffhh...blunder...
Barol: Bapa kami yang ada di dalam kerajaan sorga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu jadikanlah...jadikanlah...eh...
Iblis: Hahaaaaahahahaha...Nda klar, ta cabu pa ngana!!!
Barol: Bapa kami dalam kerajaan sorga dikuduskanlah kiranya namamu datanglah kerajaanmu jadilah kehendakmu di bumi seperti di sorga...berikanlah kami pada hari ini makan kami yang secukupnya dan ampunilah kami...akan...segala kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni...
Iblis: Ah, memang biongo ngana!!!
Barol: (menangis) seperti kami juga telah mengampuni orang yang bersalah kepada kami dan jangan membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat sebab engkaulah...
Iblis: Sebenarnya ngana ini so mati.
Barol: Sebab engkaulah...sebab engkaulah...engkaulah...yang...(terdiam dan menangis)
Iblis: Sori...so dari tadi...mar memang so ngana pe waktu...
Barol: (Melepaskan ikatan tali yang ada di lehernya dan kembali mengambil sikap berdoa) Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Iblis: Capat jo...kita so musti bawa pa ngana skarang.
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Iblis: Hahaaa...
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus... Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Suara Ibu: (bernyanyi) Betapa hatiku berterima kasih Yesus
Kau mengasihiku Kau memilikiku
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku jiwa dan ragaku
Sbab tak ku miliki harta kekayaan yang cukup berarti tuk ku persembahkan.
(Iblis lari keluar melalui jendela)
Suara Ibu: (terus bernyanyi) Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidup ku sebagai alatmu seumur hidupku.
(Terdengar suara pintu kamar diketuk)
Ibu: Barol, so boleh bangun jo. Mo pigi ngana nyanda?
Barol...
(Masuk Ibu. Begitu masuk langkahnya terhenti setelah melihat Barol yang adalah anaknya sedang berdoa. Ibu keluar perlahan dan menutup pintu)
Barol: Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...Tuhan Yesus...
Selesai Babak I
Babak Bonus
Setting: Sebuah kamar. Pagi.
(Barol tertidur di atas tempat tidur)
Suara Iblis: Tunggu ngana!
Suara Barol: Tuhan Yesus. Hahahaaa...
Suara Iblis: Ooo...ba gara pa kita le ngana e...Kiapa, ngana pe kira so apa so tu...
Suara Barol: Tuhan Yesus.
Suara Iblis: Hmm...
Suara Barol: Tuhan Yesus. So kalah ngana blis.
Suara Iblis: Apa? Kalah?
Suara Barol: Tuhan Yesus.
Selesai Babak Bonus
Saturday, July 25, 2009
"SURGA NERAKA SI PROFESOR" Naskah Drama Rohani Kristen (Bahasa Melayu Manado)
Babak I
(Setting: Siang hari. Theater Hall Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado. Panggung berkabut. Di tengah-tengah panggung terdapat sebuah kursi listrik. Di ujung kiri panggung terdapat penanda arah yang bertuliskan Surga dan yang di bagian kanan bertuliskan Neraka)
(Masuk Malaikat Pencabut Nyawa [M.P.N]. Berjalan menyusuri penonton. Menghampiri Mahasiswa Berprestasi [M.B] yang mengidap penyakit jantung yang duduk di antara para penonton kemudian berusaha menggenggam jantung M.B. Perlu diketahui bahwa M.B ini adalah aktris yang disewa untuk mendukung pertunjukan ini)
M.B: (Seolah-olah dapat melihat M.P.N. M.B menjadi histeris)
Nyanda!!!
Bukang skarang!!!
Kita nimau!!!
Tunggu!!!
Nyandaaaaa!!!
Akh...(mati)
(Setelah menyelubungi seluruh bagian kepala M.B dengan kain hitam, M.P.N menyeret M.B ke panggung. Dalam perjalanan ke panggung M.B terus merintih)
M.B: Kiapa kong skarang dang? (berulang-ulang dan semakin keras)
Tuhan, Kiapa kong skarang dang?
Masih ada banya tugas yang kita blum beking!
ISD, Statistika, deng Pancasila
Tu Maengket le kita blum hafal samua de pe gerakan!
Kan kalu bagini kita so nda mo dapa I.P. 4 ulang.
(meratap)
(M.P.N mendudukan M.B kemudian mengikatnya di kursi listrik)
(Iblis masuk setelah membuat kegaduhan)
(Masuk Malaikat)
Iblis: Dia ini so talalu ambitu!
Dia lebe pake de pe otak dari pada de pe hati.
Dia egois!
Deng sombong!
Jadi, dia ini pantas skali maso neraka.
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan? (kepada M.B. dengan lembut)
M.B: TuanYesus
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan?
M.B: (berpikir) Ng...pa..yang ada ba tanya ini no.
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan?
M.B: (berpikir) Ng...
(perlahan M.B. mulai ketakutan, setelah disadarinya ternyata pikirannyalah sendiri yang menjadi Tuhannya)
M.B: Oh Tuhan! Selama ini, yang jadi kita pe Tuhan kote' ternyata..kita pe otak.
Malaikat: Apa ngana pe pembelaan?
M.B: Sudah..Sudah..adoh kasiang...adoh (panik...meratap)
Iblis: Ha ha ha...
Sini ngana!
(menyeret M.B. ke neraka)
(M.P.N kembali berjalan menyusuri penonton. Sementara itu Prof. Bangsat Abadi [P.B.A] sapaan akrabWitho (seorang mahasiswa abadi di fakultas itu) memasuki ruangan dari pintu samping. P.B.A yang adalah salah satu mahasiswa abadi di Fakultas itu sejak dari tadi menonton pementasan ini dari luar ruangan. Untuk mendapatkan view yang lebih baik ia memutuskan untuk menonton pertunjukan dari deretan teratas yang terdapat di bagian belakang ruangan. Kemudian ia mulai menapaki anak tangga dan ia pun berpapasan dengan M.P.N yang sedang menuruni tangga. P.B.A yang terkejut melihat M.P.N tiba-tiba terjatuh hingga terguling-guling, dan akhirnya mati. Setelah memakaikan kain hitam yang menutupi seluruh bagian kepala P.B.A, M.P.N menyeret P.B.A ke panggung dan mendudukannya di kursi listrik yang ada di tengah-tengah panggung dan mengikatnya)
P.B.A: Ah! Kita nemau!!! (kepada M.P.N)
Sapa ini da hela-hela pa kita?
Woy! Kiapa ini?
Malaikat: Ngana ada dalam pengadilan alam baka.
P.B.A: Wei! Co jangan baku sedu kwa. (mulai marah. Memberontak. Bergegas lari keluar dengan kursi yang masih melekat pada bagian belakang tubuhnya namun di cegat M.P.N dan di seret kembali ke tengah panggung)
Iblis: Dia ini brutal!
Stenga gila!
Deng homoseksual!
P.B.A: Eh! Jangan asal-asal ngana!
Laki-laki asli kita!
Kita ini di band pemain gitar. Kalu di bola kaki biasa ba kiper, mar kita lebe suka kwa ba straiker. Kalu di basket, kita jago ba ribaun. Apa le...
Pernah iko kejuaraan klaimbing antar mahasiswa, jago ekting, anak satu.
Iblis: Dia ini sombong skali!
Sorodo!
Kong biongo le!
Malaikat: Sapa ngana pe anak...eh...sapa ngana pe Tuhan?
P.B.A: Hahahaha...apa ini?! (gusar)
Kita pe Tuhan pa Tuhan no!
Malaikat: Apa yang ngana so beking for ngana pe Tuhan?
P.B.A: (berpikir) Ng...
Iblis: Ha ha ha...
So ini tu kita da tunggu-tunggu dari pa ngana!
Sini iko pa kita!
(berusaha menyeret P.B.A ke neraka namun terhenti ketika terdengar suara yang keluar dari Sosok Putih)
(masuk Sosok Putih)
Sosok Putih: Yang dia beking for kita memang amper nyanda ada.
Yang dia minta pa kita le cuma dua hal.
Yang pertama, supaya jangan sampe dia pe anak jadi rupa dia.
Tiap malam dia berdoa minta tolong pa kita supaya dia pe anak nyanda dapa otak rupa dia.
Yang kadua, dia minta Kita mo jaga-jaga akang depe maitua.
Dia percaya pa Kita.
Jadi, bukang di situ de pe tampa.
(Sosok putih mengambil P.B.A dari Iblis lalu menuntunnya mengikuti penanda arah yang bertuliskan surga)
Babak II (Bonus)
(Setting: Siang hari. Ruang Theater Fakultas Sastra. Panggung di tata seperti sebuah kamar tidur)
(P.B.A yang sedang tertidur di ranjang yang berada di tengah-tengah panggung perlahan mulai terjaga. Kemudian dia mulai bangkit dengan perlahan)
P.B.A: (menghela nafas panjang)
Pe soe le...surga do...
Bae le cuma mimpi...
(meregangkan otot-ototnya)
Suara anak: Om mo ba sewa P.S. dang.
Om...
P.B.A: Iyoo...(melompat dari tempat tidur dan segera keluar meninggalkan panggung)
Selesai
(Setting: Siang hari. Theater Hall Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado. Panggung berkabut. Di tengah-tengah panggung terdapat sebuah kursi listrik. Di ujung kiri panggung terdapat penanda arah yang bertuliskan Surga dan yang di bagian kanan bertuliskan Neraka)
(Masuk Malaikat Pencabut Nyawa [M.P.N]. Berjalan menyusuri penonton. Menghampiri Mahasiswa Berprestasi [M.B] yang mengidap penyakit jantung yang duduk di antara para penonton kemudian berusaha menggenggam jantung M.B. Perlu diketahui bahwa M.B ini adalah aktris yang disewa untuk mendukung pertunjukan ini)
M.B: (Seolah-olah dapat melihat M.P.N. M.B menjadi histeris)
Nyanda!!!
Bukang skarang!!!
Kita nimau!!!
Tunggu!!!
Nyandaaaaa!!!
Akh...(mati)
(Setelah menyelubungi seluruh bagian kepala M.B dengan kain hitam, M.P.N menyeret M.B ke panggung. Dalam perjalanan ke panggung M.B terus merintih)
M.B: Kiapa kong skarang dang? (berulang-ulang dan semakin keras)
Tuhan, Kiapa kong skarang dang?
Masih ada banya tugas yang kita blum beking!
ISD, Statistika, deng Pancasila
Tu Maengket le kita blum hafal samua de pe gerakan!
Kan kalu bagini kita so nda mo dapa I.P. 4 ulang.
(meratap)
(M.P.N mendudukan M.B kemudian mengikatnya di kursi listrik)
(Iblis masuk setelah membuat kegaduhan)
(Masuk Malaikat)
Iblis: Dia ini so talalu ambitu!
Dia lebe pake de pe otak dari pada de pe hati.
Dia egois!
Deng sombong!
Jadi, dia ini pantas skali maso neraka.
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan? (kepada M.B. dengan lembut)
M.B: TuanYesus
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan?
M.B: (berpikir) Ng...pa..yang ada ba tanya ini no.
Malaikat: Sapa ngana pe Tuhan?
M.B: (berpikir) Ng...
(perlahan M.B. mulai ketakutan, setelah disadarinya ternyata pikirannyalah sendiri yang menjadi Tuhannya)
M.B: Oh Tuhan! Selama ini, yang jadi kita pe Tuhan kote' ternyata..kita pe otak.
Malaikat: Apa ngana pe pembelaan?
M.B: Sudah..Sudah..adoh kasiang...adoh (panik...meratap)
Iblis: Ha ha ha...
Sini ngana!
(menyeret M.B. ke neraka)
(M.P.N kembali berjalan menyusuri penonton. Sementara itu Prof. Bangsat Abadi [P.B.A] sapaan akrabWitho (seorang mahasiswa abadi di fakultas itu) memasuki ruangan dari pintu samping. P.B.A yang adalah salah satu mahasiswa abadi di Fakultas itu sejak dari tadi menonton pementasan ini dari luar ruangan. Untuk mendapatkan view yang lebih baik ia memutuskan untuk menonton pertunjukan dari deretan teratas yang terdapat di bagian belakang ruangan. Kemudian ia mulai menapaki anak tangga dan ia pun berpapasan dengan M.P.N yang sedang menuruni tangga. P.B.A yang terkejut melihat M.P.N tiba-tiba terjatuh hingga terguling-guling, dan akhirnya mati. Setelah memakaikan kain hitam yang menutupi seluruh bagian kepala P.B.A, M.P.N menyeret P.B.A ke panggung dan mendudukannya di kursi listrik yang ada di tengah-tengah panggung dan mengikatnya)
P.B.A: Ah! Kita nemau!!! (kepada M.P.N)
Sapa ini da hela-hela pa kita?
Woy! Kiapa ini?
Malaikat: Ngana ada dalam pengadilan alam baka.
P.B.A: Wei! Co jangan baku sedu kwa. (mulai marah. Memberontak. Bergegas lari keluar dengan kursi yang masih melekat pada bagian belakang tubuhnya namun di cegat M.P.N dan di seret kembali ke tengah panggung)
Iblis: Dia ini brutal!
Stenga gila!
Deng homoseksual!
P.B.A: Eh! Jangan asal-asal ngana!
Laki-laki asli kita!
Kita ini di band pemain gitar. Kalu di bola kaki biasa ba kiper, mar kita lebe suka kwa ba straiker. Kalu di basket, kita jago ba ribaun. Apa le...
Pernah iko kejuaraan klaimbing antar mahasiswa, jago ekting, anak satu.
Iblis: Dia ini sombong skali!
Sorodo!
Kong biongo le!
Malaikat: Sapa ngana pe anak...eh...sapa ngana pe Tuhan?
P.B.A: Hahahaha...apa ini?! (gusar)
Kita pe Tuhan pa Tuhan no!
Malaikat: Apa yang ngana so beking for ngana pe Tuhan?
P.B.A: (berpikir) Ng...
Iblis: Ha ha ha...
So ini tu kita da tunggu-tunggu dari pa ngana!
Sini iko pa kita!
(berusaha menyeret P.B.A ke neraka namun terhenti ketika terdengar suara yang keluar dari Sosok Putih)
(masuk Sosok Putih)
Sosok Putih: Yang dia beking for kita memang amper nyanda ada.
Yang dia minta pa kita le cuma dua hal.
Yang pertama, supaya jangan sampe dia pe anak jadi rupa dia.
Tiap malam dia berdoa minta tolong pa kita supaya dia pe anak nyanda dapa otak rupa dia.
Yang kadua, dia minta Kita mo jaga-jaga akang depe maitua.
Dia percaya pa Kita.
Jadi, bukang di situ de pe tampa.
(Sosok putih mengambil P.B.A dari Iblis lalu menuntunnya mengikuti penanda arah yang bertuliskan surga)
Babak II (Bonus)
(Setting: Siang hari. Ruang Theater Fakultas Sastra. Panggung di tata seperti sebuah kamar tidur)
(P.B.A yang sedang tertidur di ranjang yang berada di tengah-tengah panggung perlahan mulai terjaga. Kemudian dia mulai bangkit dengan perlahan)
P.B.A: (menghela nafas panjang)
Pe soe le...surga do...
Bae le cuma mimpi...
(meregangkan otot-ototnya)
Suara anak: Om mo ba sewa P.S. dang.
Om...
P.B.A: Iyoo...(melompat dari tempat tidur dan segera keluar meninggalkan panggung)
Selesai
Friday, July 17, 2009
"MENYELAMATKAN JURUSLAMAT" Naskah Drama Rohani Kristen
Tokoh: Abihud (Salah seorang pengikut Yesus)
Yotam (Kakak Abihud, anggota kelompok Zealot)
Maria (Ibu Abihud dan Yotam)
Setting: Beranda lantai atas sebuah rumah di kota Yerusalem.
Saat di mana Yesus sedang digiring keluar kota menuju ke Bukit
Tengkorak untuk disalibkan.
(Masuk Abihud. Bergegas melihat ke arah jalanan. Dari kejauhan dilihatnya sekumpulan orang yang jumlahnya sangat banyak. Di tengah-tengah kerumunan itu ia menangkap bayangan sosok Yesus yang sedang berjalan terseok-seok, karena sambil memikul salib ia sesekali dihujani dengan cambukan dan tendangan dari para prajurit. Suara riuh orang-orang yang menyoraki, mengutuk, serta mengolok-olok Yesus semakin lama semakin terdengar keras. Begitu pula dengan suara2 tangisan. Setelah melihat itu semua Abihud melangkah mundur perlahan dan mulai menangis).
(Masuk Maria. Mendekati Abihud)
Maria : Ada apa anakku Abihud? Apa yang sedang engkau tangisi?
Abihud : Mereka akan membawanya ke tempat tengkorak untuk disalibkan.
Maria : melihat kearah jalan)
Siapa yang akan disalibkan?
Abihud : Yesus.
Maria : Orang yang dipanggil guru itu?!
Apa kesalahannya?
Abihud : Mereka memusuhinya...
Pemimpin-pemimpin agama memusuhinya.
(Masuk Yotam. Meletakan pedang yang diselipkan di dalam jubahnya ke lantai)
Yotam : Darahnya terbuang percuma!
(menghampiri Maria dan mengarahkan pandangannya ke arah Yesus)
Yang dia peroleh hanyalah kesia-siaan.
(menghampiri Abihud)
Heh! Bukankah kau adalah salah seorang pengikutnya?!
Lihat! (menunjuk ke arah Yesus)
Lihat orang yang kau panggil guru itu!
Mana mujizatnya?!
(kembali menghampiri Maria)
(kepada Abihud) Seharusnya bukan dia yang harus kau tangisi...tapi
bangsa ini!
Orang-orang Romawi biadab itu sudah menginjak-injak harga diri bangsa
kita!
Dan tugas kita adalah mengusir mereka dari tanah kita!
Maria : Ahh! (Terperangah setelah melihat Yesus menoleh ke arahnya)
Wajahnya...
(melangkah mundur dan jatuh terduduk)
Dia...
(gemetar)
(Abihud bergegas mengangkat Maria)
Abihud : Kenapa bu?
Maria : Aku harus memberikannya air minum. (terbata-bata)
(bergegas mengambil kendi berisi air. Keluar)
(Abihud menghampiri pinggiran teras, melihat Yesus yang sedang melintasi jalan di depan rumah mereka, kemudian melangkah mundur sembari menahan tangisnya)
Yotam : Tahukah kau mengapa dia harus dihukum mati?
Orang itu mengaku sebagai mesias.
Abihud : Aku sudah menduganya.
Dia lebih dari seorang nabi.
Dialah yang akan mengusir bangsa Romawi diri tanah kita!
Dia...dia tidak boleh mati!
Yotam : Dia?!
Lihat dia bodoh!
Orang ini sudah tidak berdaya!
Abihud : Dia tidak boleh mati!
Pasti murid-muridnya sedang menunggu saat yang tepat untuk
menyelamatkannya...
Yotam : Murid-muridnya sudah lari meniggalkan dia karena ketakutan.
Abihud : Dia tidak boleh mati!
(mengambil pedang yang dibawa Yotam tadi)
Aku harus menyelamatkannya!
(Abihud bergegas keluar namun dicegat Yotam)
Yotam : Sekarang belum saatnya!
Abihud : Aku harus memulainya!
Yotam : Kau hanya akan merusak rencana kelompok Zealot!
Abihud : Aaaaaaaahhhhh!!! (berontak)
Aku harus menolongnya! (mendorong Yotam)
(berkelahi)
(Yotam berhasil merebut pedang dari tangan Abihud namun tanpa disengaja pedang tersebut terserempet mengenai leher Abihud. Abihud jatuh terkapar)
(masuk Maria. Mendapati darah yang berceceran dari leher Abihud)
Maria : Darah! (manangis. Membaringkan tubuh Abihud di pangkuannya)
Selesai
Yotam (Kakak Abihud, anggota kelompok Zealot)
Maria (Ibu Abihud dan Yotam)
Setting: Beranda lantai atas sebuah rumah di kota Yerusalem.
Saat di mana Yesus sedang digiring keluar kota menuju ke Bukit
Tengkorak untuk disalibkan.
(Masuk Abihud. Bergegas melihat ke arah jalanan. Dari kejauhan dilihatnya sekumpulan orang yang jumlahnya sangat banyak. Di tengah-tengah kerumunan itu ia menangkap bayangan sosok Yesus yang sedang berjalan terseok-seok, karena sambil memikul salib ia sesekali dihujani dengan cambukan dan tendangan dari para prajurit. Suara riuh orang-orang yang menyoraki, mengutuk, serta mengolok-olok Yesus semakin lama semakin terdengar keras. Begitu pula dengan suara2 tangisan. Setelah melihat itu semua Abihud melangkah mundur perlahan dan mulai menangis).
(Masuk Maria. Mendekati Abihud)
Maria : Ada apa anakku Abihud? Apa yang sedang engkau tangisi?
Abihud : Mereka akan membawanya ke tempat tengkorak untuk disalibkan.
Maria : melihat kearah jalan)
Siapa yang akan disalibkan?
Abihud : Yesus.
Maria : Orang yang dipanggil guru itu?!
Apa kesalahannya?
Abihud : Mereka memusuhinya...
Pemimpin-pemimpin agama memusuhinya.
(Masuk Yotam. Meletakan pedang yang diselipkan di dalam jubahnya ke lantai)
Yotam : Darahnya terbuang percuma!
(menghampiri Maria dan mengarahkan pandangannya ke arah Yesus)
Yang dia peroleh hanyalah kesia-siaan.
(menghampiri Abihud)
Heh! Bukankah kau adalah salah seorang pengikutnya?!
Lihat! (menunjuk ke arah Yesus)
Lihat orang yang kau panggil guru itu!
Mana mujizatnya?!
(kembali menghampiri Maria)
(kepada Abihud) Seharusnya bukan dia yang harus kau tangisi...tapi
bangsa ini!
Orang-orang Romawi biadab itu sudah menginjak-injak harga diri bangsa
kita!
Dan tugas kita adalah mengusir mereka dari tanah kita!
Maria : Ahh! (Terperangah setelah melihat Yesus menoleh ke arahnya)
Wajahnya...
(melangkah mundur dan jatuh terduduk)
Dia...
(gemetar)
(Abihud bergegas mengangkat Maria)
Abihud : Kenapa bu?
Maria : Aku harus memberikannya air minum. (terbata-bata)
(bergegas mengambil kendi berisi air. Keluar)
(Abihud menghampiri pinggiran teras, melihat Yesus yang sedang melintasi jalan di depan rumah mereka, kemudian melangkah mundur sembari menahan tangisnya)
Yotam : Tahukah kau mengapa dia harus dihukum mati?
Orang itu mengaku sebagai mesias.
Abihud : Aku sudah menduganya.
Dia lebih dari seorang nabi.
Dialah yang akan mengusir bangsa Romawi diri tanah kita!
Dia...dia tidak boleh mati!
Yotam : Dia?!
Lihat dia bodoh!
Orang ini sudah tidak berdaya!
Abihud : Dia tidak boleh mati!
Pasti murid-muridnya sedang menunggu saat yang tepat untuk
menyelamatkannya...
Yotam : Murid-muridnya sudah lari meniggalkan dia karena ketakutan.
Abihud : Dia tidak boleh mati!
(mengambil pedang yang dibawa Yotam tadi)
Aku harus menyelamatkannya!
(Abihud bergegas keluar namun dicegat Yotam)
Yotam : Sekarang belum saatnya!
Abihud : Aku harus memulainya!
Yotam : Kau hanya akan merusak rencana kelompok Zealot!
Abihud : Aaaaaaaahhhhh!!! (berontak)
Aku harus menolongnya! (mendorong Yotam)
(berkelahi)
(Yotam berhasil merebut pedang dari tangan Abihud namun tanpa disengaja pedang tersebut terserempet mengenai leher Abihud. Abihud jatuh terkapar)
(masuk Maria. Mendapati darah yang berceceran dari leher Abihud)
Maria : Darah! (manangis. Membaringkan tubuh Abihud di pangkuannya)
Selesai
Thursday, July 2, 2009
DRAMA PROMOSI PRODUK SUSU
Sebuah pementasan experimental di ruang komersil
Setting: Sekarang. Suatu daerah di pedalaman Indonesia.
[masuk 4 orang penari Kabasaran dan mengambil posisi]
[Ke-4 penari mulai menari]
[Setelah mereka selesai menari masuk (Istri) seorang ibu yang sedang hamil yang berjalan tergopoh-gopoh, dan (Suami) suami ibu tersebut yang dengan susah payah memapahnya. Salah seorang dari penari Kabasaran bergegas mengambil kursi yang sudah dipersiapkan untuk diletakkannya di tengah panggung. Sedangkan ketiga penari segera membantu ibu itu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan oleh penari Kabasaran tadi].
Suami : [kepada para penari Kabasaran] Apa ibu bidan ada!
Istri saya ini akan segera melahirkan.
Tolong panggilkan beliau.
Penari I : Baiklah, tunggu sebentar. [Ke-4 penari Kabasaran segera bergegas keluar panggung]
[Sang suami berusaha menghibur istrinya yang terus-menerus mengerang menahan rasa sakit]
Suami : Tahan sedikit yah sayang, sebentar lagi bidan datang.
[masuk kompetitor I]
Istri : [terus mengerang kesakitan]
Kompetitor I : Permisi pak, bu…
Saya mo ketemu deng bidan di sini.
Apa orangnya ada?
[Suami dan istrinya itu menggelengkan kepala mengisyaratkan bahwa bidan tidak ada]
Kompetitor I : Bagini, kita pe maksud datang ka sini for mo tawarkan produk susu! [sambil menunjukan produk susu yang dibawanya]
Susu ini bagus for tanta hamil karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, zat besi, kalsium, deng vitamin dari A sampe Z!
And di jamin mahal!
Istri : [kembali mengerang]
Suami : Apa anda tidak lihat?!
Istri saya ini akan segera melahirkan dan pensiun jadi ibu hamil.
Sabar ya sayang. [kepada Istri]
Istri : [terus mengerang]
Kompetitor I : Tenang pak, bu…
Produk susu ini aman untuk diminum sebelum ato sesudah melahirkan.
Karena disini tercantum “baik digunakan sebelum: 16 januari 2009”
Berarti masih ada satu tahun, baru nanti ‘expire’.
Ayolah! Pak, bu, coba rasa dulu noh…
Dijamin beking ketagihan!
[Istri perlahan bangkit dari tempat duduknya, dan berusaha berdiri]
Istri : Maaf ya…[kepada Kompetitor I]
Anda sudah berusaha dengan baik untuk meyakinkan kami, tapi sejak saya mengandung anak kedua sampai yang ke enam ini, saya terus mengkonsumsi BDY, susu untuk ibu hamil yang kaya akan nutrisi, DHA, Kolin, FOS, asam Folat, dan zat besi!
[dengan gaya berpromosi]
Kompetitor I : E dodo’ e…
Kalu bagitu kita da datang ini so terlambat skali dang.
Istri : Ya…iya lah….
BDY! Spesialis nutrisi untuk dua masa penting ibu dan bayi.
[Kompetitor I menjadi sangat terpukul, kemudian berjalan keluar dengan kepala tertunduk]
[Istri tiba-tiba mengerang menahan sakit dan kembali duduk]
Suami : Sabar sedikit yah sayang, sebentar lagi ibu bidan datang.
[masuk Bidan dan penari-penari Kabasaran]
[Bidan segera menghampiri Istri]
[Sementara itu para penari Kabasaran mengambil posisi di belakang suami]
Bidan : Masih minum susu ja ki? [memeriksa Istri]
Istri : Iya.
Bidan : Bagus. [berusaha membantu proses melahirkannya]
Tarik nafas mi….buang….tarik lagi…..buang…..tarik nafas dalam-dalam…..
Jangan mi cepa’-cepa’! Pelan-pelan saja mi. Rileks maki…
[Istri mengikuti instruksi dari Bidan]
[masuk kompetitor II dan kompetitior I]
Kompetitor I : [begitu masuk…] Ha! kalu ini torang so nyanda mungkin terlambat. Malahan sebelum lahir itu bayi, torang so ada.
So ini itu orang bilang menjemput bola.
[Kompetitor I dan II berjalan ke tengah panggung]
Kompetitor II : Parmisi smua….
Katong mo tawarkan produk susu par bayi ni. [sambil menunjukan produknya]
Ini produk mengandung banyak zat gizi yang boleh biking bayi berkembang lebe optimal. Pokoknya smua yang bergizi su ada di situ sudah.
[sesudah berucap Kompetitor II berjalan menghampiri Istri dan Bidan]
Ini bagus par bayi yang mo lahir tu….
[Bidan dan Istri tidak menggubris kata-kata kompetitor II, mereka berdua tetap fokus pada proses melahirkan]
Suami : Semua anak kami, kecuali anak pertama, saat mereka bayi kami selalu memberikan SBY, susu yang sudah pasti kaya akan nutrisi dan gizi yang tentunya dapat mengoptimalkan pertumbuhan bayi.
[dengan gaya berpromosi]
Kompetitor II : Eh! Jangan salah! Katong pung susu ini lebe bagus dari susu SBY. Susu ini seng ada lawang!
[perlahan namun pasti ke-4 penari tarian Kabasaran menghampiri Kompetitor II dan I]
Penari I : Eh! Anda hati-hati kalau bicara!
Kompetitor I : Jadi situ pe mau apa? [menantang Penari I sambil melangkah maju]
[ke empat Penari dan kedua kompetitor memekik kemudian mereka mulai berkelahi dengan gaya tarian Kabasaran. Sebagai catatan; sekiranya boleh, untuk properti parang digantikan dengan kaleng atau dus susu sebagai simbol produk yang dibawa masing-masing]
Penari I : [sambil menari tarian Kabasaran] Apa yang mau di banggakan dari produk saudara?
Kopetitor I : [memekik sambil menari tarian Kabasaran] torang pe produk ini mengandung zat besi yang tidak akan pernah mo ba karat.
Penari I : [tertawa sinis sambil menari tarian Kabasaran] Hanya itu?
Kompetitor II : [memekik sambil menari tarian Cakalele ] Masih ada. Katong pung susu ini juga mengandung empat sehat lima sempurna.
Memangnya situ punya apa?
Penari I : [memekik sambil menari tarian Kabasaran] SBY mengandung DHA!
LA!
FOS
dan GOS!
[Ke empat penari dan kedua kompetitor masih terus berkelahi dengan gaya tarian Kabasaran dan membentuk formasi-formasi]
[Setelah terdengar suara Istri yang mengerang, Kompetitor II dan I langsung melarikan diri keluar panggung]
[sementara itu Istri melahirkan seorang bayi, yang kemudian di gendongnya. Ke-4 penari kembali menari tarian Kabasaran untuk menyambut kelahiran bayi tersebut, setelah itu secara serempak dua penari yang sejak dari tadi menari dengan memegang susu SBY segera menyodorkannya pada si bayi, sedangkan dua penari lainnya membentangkan spanduk]
Semua : SBY Lanjutkan.
Selesai
Setting: Sekarang. Suatu daerah di pedalaman Indonesia.
[masuk 4 orang penari Kabasaran dan mengambil posisi]
[Ke-4 penari mulai menari]
[Setelah mereka selesai menari masuk (Istri) seorang ibu yang sedang hamil yang berjalan tergopoh-gopoh, dan (Suami) suami ibu tersebut yang dengan susah payah memapahnya. Salah seorang dari penari Kabasaran bergegas mengambil kursi yang sudah dipersiapkan untuk diletakkannya di tengah panggung. Sedangkan ketiga penari segera membantu ibu itu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan oleh penari Kabasaran tadi].
Suami : [kepada para penari Kabasaran] Apa ibu bidan ada!
Istri saya ini akan segera melahirkan.
Tolong panggilkan beliau.
Penari I : Baiklah, tunggu sebentar. [Ke-4 penari Kabasaran segera bergegas keluar panggung]
[Sang suami berusaha menghibur istrinya yang terus-menerus mengerang menahan rasa sakit]
Suami : Tahan sedikit yah sayang, sebentar lagi bidan datang.
[masuk kompetitor I]
Istri : [terus mengerang kesakitan]
Kompetitor I : Permisi pak, bu…
Saya mo ketemu deng bidan di sini.
Apa orangnya ada?
[Suami dan istrinya itu menggelengkan kepala mengisyaratkan bahwa bidan tidak ada]
Kompetitor I : Bagini, kita pe maksud datang ka sini for mo tawarkan produk susu! [sambil menunjukan produk susu yang dibawanya]
Susu ini bagus for tanta hamil karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, zat besi, kalsium, deng vitamin dari A sampe Z!
And di jamin mahal!
Istri : [kembali mengerang]
Suami : Apa anda tidak lihat?!
Istri saya ini akan segera melahirkan dan pensiun jadi ibu hamil.
Sabar ya sayang. [kepada Istri]
Istri : [terus mengerang]
Kompetitor I : Tenang pak, bu…
Produk susu ini aman untuk diminum sebelum ato sesudah melahirkan.
Karena disini tercantum “baik digunakan sebelum: 16 januari 2009”
Berarti masih ada satu tahun, baru nanti ‘expire’.
Ayolah! Pak, bu, coba rasa dulu noh…
Dijamin beking ketagihan!
[Istri perlahan bangkit dari tempat duduknya, dan berusaha berdiri]
Istri : Maaf ya…[kepada Kompetitor I]
Anda sudah berusaha dengan baik untuk meyakinkan kami, tapi sejak saya mengandung anak kedua sampai yang ke enam ini, saya terus mengkonsumsi BDY, susu untuk ibu hamil yang kaya akan nutrisi, DHA, Kolin, FOS, asam Folat, dan zat besi!
[dengan gaya berpromosi]
Kompetitor I : E dodo’ e…
Kalu bagitu kita da datang ini so terlambat skali dang.
Istri : Ya…iya lah….
BDY! Spesialis nutrisi untuk dua masa penting ibu dan bayi.
[Kompetitor I menjadi sangat terpukul, kemudian berjalan keluar dengan kepala tertunduk]
[Istri tiba-tiba mengerang menahan sakit dan kembali duduk]
Suami : Sabar sedikit yah sayang, sebentar lagi ibu bidan datang.
[masuk Bidan dan penari-penari Kabasaran]
[Bidan segera menghampiri Istri]
[Sementara itu para penari Kabasaran mengambil posisi di belakang suami]
Bidan : Masih minum susu ja ki? [memeriksa Istri]
Istri : Iya.
Bidan : Bagus. [berusaha membantu proses melahirkannya]
Tarik nafas mi….buang….tarik lagi…..buang…..tarik nafas dalam-dalam…..
Jangan mi cepa’-cepa’! Pelan-pelan saja mi. Rileks maki…
[Istri mengikuti instruksi dari Bidan]
[masuk kompetitor II dan kompetitior I]
Kompetitor I : [begitu masuk…] Ha! kalu ini torang so nyanda mungkin terlambat. Malahan sebelum lahir itu bayi, torang so ada.
So ini itu orang bilang menjemput bola.
[Kompetitor I dan II berjalan ke tengah panggung]
Kompetitor II : Parmisi smua….
Katong mo tawarkan produk susu par bayi ni. [sambil menunjukan produknya]
Ini produk mengandung banyak zat gizi yang boleh biking bayi berkembang lebe optimal. Pokoknya smua yang bergizi su ada di situ sudah.
[sesudah berucap Kompetitor II berjalan menghampiri Istri dan Bidan]
Ini bagus par bayi yang mo lahir tu….
[Bidan dan Istri tidak menggubris kata-kata kompetitor II, mereka berdua tetap fokus pada proses melahirkan]
Suami : Semua anak kami, kecuali anak pertama, saat mereka bayi kami selalu memberikan SBY, susu yang sudah pasti kaya akan nutrisi dan gizi yang tentunya dapat mengoptimalkan pertumbuhan bayi.
[dengan gaya berpromosi]
Kompetitor II : Eh! Jangan salah! Katong pung susu ini lebe bagus dari susu SBY. Susu ini seng ada lawang!
[perlahan namun pasti ke-4 penari tarian Kabasaran menghampiri Kompetitor II dan I]
Penari I : Eh! Anda hati-hati kalau bicara!
Kompetitor I : Jadi situ pe mau apa? [menantang Penari I sambil melangkah maju]
[ke empat Penari dan kedua kompetitor memekik kemudian mereka mulai berkelahi dengan gaya tarian Kabasaran. Sebagai catatan; sekiranya boleh, untuk properti parang digantikan dengan kaleng atau dus susu sebagai simbol produk yang dibawa masing-masing]
Penari I : [sambil menari tarian Kabasaran] Apa yang mau di banggakan dari produk saudara?
Kopetitor I : [memekik sambil menari tarian Kabasaran] torang pe produk ini mengandung zat besi yang tidak akan pernah mo ba karat.
Penari I : [tertawa sinis sambil menari tarian Kabasaran] Hanya itu?
Kompetitor II : [memekik sambil menari tarian Cakalele ] Masih ada. Katong pung susu ini juga mengandung empat sehat lima sempurna.
Memangnya situ punya apa?
Penari I : [memekik sambil menari tarian Kabasaran] SBY mengandung DHA!
LA!
FOS
dan GOS!
[Ke empat penari dan kedua kompetitor masih terus berkelahi dengan gaya tarian Kabasaran dan membentuk formasi-formasi]
[Setelah terdengar suara Istri yang mengerang, Kompetitor II dan I langsung melarikan diri keluar panggung]
[sementara itu Istri melahirkan seorang bayi, yang kemudian di gendongnya. Ke-4 penari kembali menari tarian Kabasaran untuk menyambut kelahiran bayi tersebut, setelah itu secara serempak dua penari yang sejak dari tadi menari dengan memegang susu SBY segera menyodorkannya pada si bayi, sedangkan dua penari lainnya membentangkan spanduk]
Semua : SBY Lanjutkan.
Selesai
Tuesday, June 23, 2009
Naskah Drama Paskah Rohani Kristen Pemuda, Remaja (Bahasa Melayu Manado)"SUATU KETIKA DI TAON 90-AN"
(Setting: Akhir tahun 90-an. Lapangan Basket. Malam hari)
(Masuk para Dancer sambil menari tarian break dance. Sesudah itu...)
Dancer 1 : Huh........lalah....
Dancer 2 : Eh... istirahat dulu kwa’, mo kase ilang tu lalah. Nanti sambung ulang.
Dancer 3 : Io...napa le kita pe nafas somo abis.
Dancer 4 : Oke dang skarang torang istirahat dulu, nanti sambung ulang.
(Sementara itu datanglah para Rocker bersama seorang orang gadis. Mereka membawa beberapa botol minuman keras)
Dancer 1 : Eh... torang mo isi acara di mana dang ini?
Dancer 3 : Di...sini...(sambil menunjuk hidungnya)
Dancer 2 : Heh...!!! Heh..!!! Ada anak-anak nakal ba kamari. Lebe bae torang menghindar, jangan dorang pukul le pa torang.
Dancer 4 : Tenang...tenang...jangan tako, dorang ini kita pe tamang-tamang. (menghampiri orang-orang yang baru datang itu)
(Para anggota dancer yang lain menghindar ke samping kiri panggung, dan para Rocker
mengambil tempat di samping kanan panggung)
Dancer 4 : Eh, dari mana? rupa so kancang ini?
Rocker 1 : Kancang angin...(sinis)
Rocker 4 : Kiapa so tanya-tanya!?
Rocker 2 : Eh...ngana pe tamang-tamang itu? Pangge ba gabung kwa, sapa tau boleh mo baku tambah doi. Biasa...kalu nda’ ba minum ba pake no.
(Dancer 4 mendatangi teman-temannya dan mengajak mereka untuk bergabung)
Dancer 4 : Friend-friend, mari jo torang ba gabung dengan dorang
Dancer 2 : Ahh...kita nimau kage le kong jadi apa-apa.
Dancer 1 : Torang pigi di situ mar sudah jo ba macam-macam no.
(Lalu mereka bergabung dengan para Rocker)
(Kemudian datanglah dua orang PSK)
PSK 1 : Nit...Nita... coba ngana lia, ada dorang Ewin di situ, mari jo torang ba dekat, sapa tau ada barang?
PSK 2 : Mari jo Dewi, napa le kita masih ta gantong ini.
(Mereka berdua berjalan sambil mendekati orang-orang itu)
PSK 1 : Hai... boleh bagabung?
Rocker 1 : Eh...kita pe kira nenek Lampir. Mari jo.
Rocker 4 : Cewe!...berkenalan dang...kita Iro’...
(Sambil berjabat tangan)
Rocker 3 : Ngoni dua suka baminum ato......?
PSK 2 : Aduh...torang so pastiu ba minum. Eh...Win ada ganja?
Rocker 3 : Ganja?....hahahaha...Ada. Hmm..napa. Eh, mar bage di sini e.
(Sambil membagikan lintingan ganja kepada kedua gadis itu. Kemudian kedua gadis itu segera membakar lintingan tersebut sambil menghisap asapnya. Tak lama kemudian....)
PSK 1 : Uh...Uh..Asyik..
PSK 2 : Enak....gila...terbang...
(Masuk beberapa anak SMA)
Rocker 1 : Waduh gawat.... ada ABG-ABG ba datang kamari.
Ih... masih pake seragam le.
Siswa 1 : Halo... pe rame do’ ngoni di sini.
Siswa 2 : Boleh mo bagabung.
Rocker 3 : Boleh no, supaya le lebe rame.
Rocker 2 : Berkenalan dulu dang supaya lebe akrab.
Siswa 1 : Oh....kita pe nama Kadek, kalu dia Adi.
Rocker 2 : Dua tambio ini dang sapa dorang pe nama? Hehehe...baku sedu katu’. Kita Novdy.
Siswa 2 : Ini pe nama Nike, kalu dia Hangly.
Rocker 1 : Kadek ngoni datang kamari par-par, berarti ngoni ini batunangan kang?
Rocker 3 : Potong cerita dulu, ngoni suka ba gabung dengan torang, bararti suka ba gate toch
Siswa 2 : Mo bagate? Ada so?
Siswi 3 : Sayang, kita dengan Hangly le boleh mo ba minum to? (kepada Siswa 2)
Siswa 2 : Io.. mar... jangan talalu banyak.
(Akhirnya mereka mulai minum-minum alkohol)
(Sementara itu masuklah si kegelapan)
Kegelapan : Ha ha ha ha ha...
Dunia adalah milikku...
Manusia adalah milikku juga!
Kehidupan ada di gengamanku... Semua kurampas dari terang!
Dengan kekuasaankulah terang di hancurkan!
Lihat orang-orang ini!
Hmmmm... nafas mereka terus memicu semangatku!
Telah kusisipkan serbuk dosa pada otak setiap makhluk yang
paling mulia ini
Dan hati nurani mereka kuhempaskan dalam kehampaan
Ahhh... dengar!!!
Siswi 4 : Eh....say, kong mo bagimana skarang, napa ini puru so 2 bulan?
Siswa 1 : Sudah!!! So bilang kase gugur jo...
Siswi 3 : Iiihhh...Jangan katu’. Lebe bae ngoni dua mangaku jo pa ngoni dua pe mama deng papa, kong bilang no mo kaweng.
Siswa 2 : Ah... nyanda usah bagitu. Ngoni kan masih muda jadi jangan dulu kaweng. Eh...mar kita dengar-dengar, di Likupang ada ‘tu oma yang so biasa ba kase lucur.
Kegelapan : Ha ha ha ha...
Akulah raja kegelapan!
Kematian ada di tanganku!
Dan mereka adalah anggotaku!
Ha ha ha...
Aha!..Ssssst...
Rocker 4 : Eh, napa itu satu sana kurang ada haga-haga pa ngana pe maitua,
manjo torang pukul jo! (kepada Rocker 2)
Rocker 2 : Tu mana?
Rocker 4 : Tu kribo sana.
Rocker 1 : Gas jo, nanti torang baku tamba!
(Rocker 1, 2 dan 4 mendekati Dancer 2)
Rocker 2 : Hey! Kribo!!! Ngana da haga-haga cinta pa ta pe cewe kang?!
(Rocker 4 langsung melayangkan pukulannya kepada Dancer 2. Hingga akhirnya terjadi perkelahian)
Kegelapan : Bagus...bagus...bagus...
Dan...dengar lagi!
(PSK 1 dan 2 tertawa cekikikan)
Rocker 3 : He...he...he....lagi tinggi....on...men......fiuuuuh....fly...away....(kemudian jatuh terdorong akibat perkelahian)
Kegelapan : Ha ha ha ha... Inilah bagian dari kerajaanku
Kenistaan ada dimana-mana!
(Melihat keadaan yang semakin kacau balau Rocker 3 segera mencabut dua bilah pisau yang diselipkan di pinggangnya dan mulai mengayun-ayunkannya secara membabi-buta. Satu-persatu orang yang ada disitu mulai roboh karena terkena sabetan dan tikamannya. Melihat keadaan seperti itu Rocker 3 lari keluar.)
Kegelapan : Kendali ada padaku!
Terang oh terang, dimanakah kuasa-Mu itu!?!
Lihat mereka....
(Masuk Terang)
Terang : Wahai kegelapan waktumu telah berakhir, karena sang Juruselamat telah menyelamatkan manusia!
Kegelapan : Aaaarghhh!?!....pergiii...pergi...
(Kegelapan lari keluar setelah melihat Terang yang datang membawa lantera, semantara itu orang-orang yang ada panggung rebah )
Terang : Allah mengasihi manusia, dan kasih-Nya begitu besar, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal–Yesus Kristus, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal!
Bangkitlah dan jadilah terang! (kepada orang-orang yang rebah itu)
(Sambil menyalakan satu-persatu lilin mereka, kemudian mereka bangkit satu-persatu)
(Kegelapan mencoba masuk kembali, kemudian keluar dengan sangat ketakutan setelah melihat formasi lilin salib pemuda/i )
Selesai
(Masuk para Dancer sambil menari tarian break dance. Sesudah itu...)
Dancer 1 : Huh........lalah....
Dancer 2 : Eh... istirahat dulu kwa’, mo kase ilang tu lalah. Nanti sambung ulang.
Dancer 3 : Io...napa le kita pe nafas somo abis.
Dancer 4 : Oke dang skarang torang istirahat dulu, nanti sambung ulang.
(Sementara itu datanglah para Rocker bersama seorang orang gadis. Mereka membawa beberapa botol minuman keras)
Dancer 1 : Eh... torang mo isi acara di mana dang ini?
Dancer 3 : Di...sini...(sambil menunjuk hidungnya)
Dancer 2 : Heh...!!! Heh..!!! Ada anak-anak nakal ba kamari. Lebe bae torang menghindar, jangan dorang pukul le pa torang.
Dancer 4 : Tenang...tenang...jangan tako, dorang ini kita pe tamang-tamang. (menghampiri orang-orang yang baru datang itu)
(Para anggota dancer yang lain menghindar ke samping kiri panggung, dan para Rocker
mengambil tempat di samping kanan panggung)
Dancer 4 : Eh, dari mana? rupa so kancang ini?
Rocker 1 : Kancang angin...(sinis)
Rocker 4 : Kiapa so tanya-tanya!?
Rocker 2 : Eh...ngana pe tamang-tamang itu? Pangge ba gabung kwa, sapa tau boleh mo baku tambah doi. Biasa...kalu nda’ ba minum ba pake no.
(Dancer 4 mendatangi teman-temannya dan mengajak mereka untuk bergabung)
Dancer 4 : Friend-friend, mari jo torang ba gabung dengan dorang
Dancer 2 : Ahh...kita nimau kage le kong jadi apa-apa.
Dancer 1 : Torang pigi di situ mar sudah jo ba macam-macam no.
(Lalu mereka bergabung dengan para Rocker)
(Kemudian datanglah dua orang PSK)
PSK 1 : Nit...Nita... coba ngana lia, ada dorang Ewin di situ, mari jo torang ba dekat, sapa tau ada barang?
PSK 2 : Mari jo Dewi, napa le kita masih ta gantong ini.
(Mereka berdua berjalan sambil mendekati orang-orang itu)
PSK 1 : Hai... boleh bagabung?
Rocker 1 : Eh...kita pe kira nenek Lampir. Mari jo.
Rocker 4 : Cewe!...berkenalan dang...kita Iro’...
(Sambil berjabat tangan)
Rocker 3 : Ngoni dua suka baminum ato......?
PSK 2 : Aduh...torang so pastiu ba minum. Eh...Win ada ganja?
Rocker 3 : Ganja?....hahahaha...Ada. Hmm..napa. Eh, mar bage di sini e.
(Sambil membagikan lintingan ganja kepada kedua gadis itu. Kemudian kedua gadis itu segera membakar lintingan tersebut sambil menghisap asapnya. Tak lama kemudian....)
PSK 1 : Uh...Uh..Asyik..
PSK 2 : Enak....gila...terbang...
(Masuk beberapa anak SMA)
Rocker 1 : Waduh gawat.... ada ABG-ABG ba datang kamari.
Ih... masih pake seragam le.
Siswa 1 : Halo... pe rame do’ ngoni di sini.
Siswa 2 : Boleh mo bagabung.
Rocker 3 : Boleh no, supaya le lebe rame.
Rocker 2 : Berkenalan dulu dang supaya lebe akrab.
Siswa 1 : Oh....kita pe nama Kadek, kalu dia Adi.
Rocker 2 : Dua tambio ini dang sapa dorang pe nama? Hehehe...baku sedu katu’. Kita Novdy.
Siswa 2 : Ini pe nama Nike, kalu dia Hangly.
Rocker 1 : Kadek ngoni datang kamari par-par, berarti ngoni ini batunangan kang?
Rocker 3 : Potong cerita dulu, ngoni suka ba gabung dengan torang, bararti suka ba gate toch
Siswa 2 : Mo bagate? Ada so?
Siswi 3 : Sayang, kita dengan Hangly le boleh mo ba minum to? (kepada Siswa 2)
Siswa 2 : Io.. mar... jangan talalu banyak.
(Akhirnya mereka mulai minum-minum alkohol)
(Sementara itu masuklah si kegelapan)
Kegelapan : Ha ha ha ha ha...
Dunia adalah milikku...
Manusia adalah milikku juga!
Kehidupan ada di gengamanku... Semua kurampas dari terang!
Dengan kekuasaankulah terang di hancurkan!
Lihat orang-orang ini!
Hmmmm... nafas mereka terus memicu semangatku!
Telah kusisipkan serbuk dosa pada otak setiap makhluk yang
paling mulia ini
Dan hati nurani mereka kuhempaskan dalam kehampaan
Ahhh... dengar!!!
Siswi 4 : Eh....say, kong mo bagimana skarang, napa ini puru so 2 bulan?
Siswa 1 : Sudah!!! So bilang kase gugur jo...
Siswi 3 : Iiihhh...Jangan katu’. Lebe bae ngoni dua mangaku jo pa ngoni dua pe mama deng papa, kong bilang no mo kaweng.
Siswa 2 : Ah... nyanda usah bagitu. Ngoni kan masih muda jadi jangan dulu kaweng. Eh...mar kita dengar-dengar, di Likupang ada ‘tu oma yang so biasa ba kase lucur.
Kegelapan : Ha ha ha ha...
Akulah raja kegelapan!
Kematian ada di tanganku!
Dan mereka adalah anggotaku!
Ha ha ha...
Aha!..Ssssst...
Rocker 4 : Eh, napa itu satu sana kurang ada haga-haga pa ngana pe maitua,
manjo torang pukul jo! (kepada Rocker 2)
Rocker 2 : Tu mana?
Rocker 4 : Tu kribo sana.
Rocker 1 : Gas jo, nanti torang baku tamba!
(Rocker 1, 2 dan 4 mendekati Dancer 2)
Rocker 2 : Hey! Kribo!!! Ngana da haga-haga cinta pa ta pe cewe kang?!
(Rocker 4 langsung melayangkan pukulannya kepada Dancer 2. Hingga akhirnya terjadi perkelahian)
Kegelapan : Bagus...bagus...bagus...
Dan...dengar lagi!
(PSK 1 dan 2 tertawa cekikikan)
Rocker 3 : He...he...he....lagi tinggi....on...men......fiuuuuh....fly...away....(kemudian jatuh terdorong akibat perkelahian)
Kegelapan : Ha ha ha ha... Inilah bagian dari kerajaanku
Kenistaan ada dimana-mana!
(Melihat keadaan yang semakin kacau balau Rocker 3 segera mencabut dua bilah pisau yang diselipkan di pinggangnya dan mulai mengayun-ayunkannya secara membabi-buta. Satu-persatu orang yang ada disitu mulai roboh karena terkena sabetan dan tikamannya. Melihat keadaan seperti itu Rocker 3 lari keluar.)
Kegelapan : Kendali ada padaku!
Terang oh terang, dimanakah kuasa-Mu itu!?!
Lihat mereka....
(Masuk Terang)
Terang : Wahai kegelapan waktumu telah berakhir, karena sang Juruselamat telah menyelamatkan manusia!
Kegelapan : Aaaarghhh!?!....pergiii...pergi...
(Kegelapan lari keluar setelah melihat Terang yang datang membawa lantera, semantara itu orang-orang yang ada panggung rebah )
Terang : Allah mengasihi manusia, dan kasih-Nya begitu besar, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal–Yesus Kristus, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal!
Bangkitlah dan jadilah terang! (kepada orang-orang yang rebah itu)
(Sambil menyalakan satu-persatu lilin mereka, kemudian mereka bangkit satu-persatu)
(Kegelapan mencoba masuk kembali, kemudian keluar dengan sangat ketakutan setelah melihat formasi lilin salib pemuda/i )
Selesai
Tuesday, March 10, 2009
"LUNAS!" Naskah Drama Paskah (Bahasa Melayu Manado)
Setting: Suatu pagi di sebuah pasar.
(semua penjual sudah berada di panggung termasuk kedua anak Penjual Buah I. Semua sibuk mengatur barang dagangannya masing-masing dan bercakap-cakap satu sama lain)
(Masuk Iblis berjalan menelusuri setiap penjual)
Iblis : (ke arah penonton)
Dunia adalah milikku
Manusia adalah milikku juga!
Kehidupan ada di gengamanku... Semua kurampas dari terang!
Dengan kekuasaankulah terang di hancurkan!
Lihat orang-orang ini!
Hmmmm... nafas mereka terus memicu semangatku!
Telah kusisipkan serbuk dosa pada setiap otak makhluk yang
paling mulia ini!
Dan hati nurani mereka kuhempaskan dalam kehampaan.
Ahhh... dengar!!!
(Iblis mendekati Penjual Buah I dan anak-anaknya)
Anak I : Ma’, masih ada le tu mo angka?
(Masuk Malaikat)
Penjual Buah : Sudah, so nyanda. Ngoni dua pigi jo. (kembali mengatur barang dagangannya)
Anak II : Ma’, somo pigi, pagi. (berjalan mendahului Anak I dan berpapasan dengan Malaikat)
(Iblis terheran-heran karena pengaruhnya hilang)
(Anak Berseragam Sekolah [A.B.S] masuk melintasi panggung dan segera keluar)
Penjual Buah : Pagi. (kepada Anak II)
Adi, jaga bae-bae tu ngana pe ade tu dia!
Anak I : Io, pagi. (bergegas menyusul Anak II)
Penjual Buah : Pagi.
Iblis : (Menyadari kehadiran Malaikat)
Mereka hidup di dunia! (dengan gusar)
Dunia yang kutaklukan sejak manusia pertama!
Mereka dan dunia ini seharusnya milikku.
Dan aku akan membawa mereka ke kerajaanku!
Malaikat : Mereka bukan milikmu!
Tak satupun milikmu!
Iblis : Aahh! (menggeram)
(menghadap ke atas)
Ujilah mereka!
Dan kita akan melihat yang sebenarnya!
Penjual Sayur : Ba skolah di mana dang dorang dua?
Penjual Buah : Di SMP 5 situ jo.
Penjual Sayur : Oh...(mengangguk)
So klas-klas brapa dang?
Penjual Buah : Tu laki-laki so klas 3.
Kalu yang ka-dua baru klas 1.
Penjual Sayur : Oh... Pe rajing-rajing kang.
Penjual Buah : Hmm... mar kita kurang salalu da ulang-ulang pa dorang, tetap musti skolah , biar tu orang tua nanti kurang mo ta banting ta baguling cari doi.
Penjual Sayur : Io katu, ini kan for dorang pe masa depan.....(terdiam sejenak)
Mar napa do kita pe nona, memang so nimau mo skolah sama skali.
Penjual Buah : Ya...katu...dari kong kiapa?
Penjual Sayur : Dia pe alasan kata, parampuang kwa mo skolah-skolah apa ley, paling-paling de pe laste cuma mo di dapur.
Penjual Buah : Yah.., Kong?
Penjual Sayur : Jadi skarang, napa dia kurang ada blajar-blajar momasa deng beking kukis.
Penjual Buah : Katu’...(bersimpati)
Penjual Sayur : Memang, waktu pertama kali da dengar dia bilang tu alasan, kecewa skali kita, mar serta ta pikir-pikir, yah...memang so dia pe cita-cita katu bagitu. Mo beking apa le...?!
(terdiam, seperti merenung)
(spontan) Eh, mar so jam brapa ini? kiapa masih sepi kang?!
Penjual Buah : Nintau le jam brapa ini. Mar io kang, rupa nyanda ada orang ba bli biar satu. Kiapa e....?
Penjual Sayur : Kiapa ini masih sunyi e.... (kepada penjual daging)
Penjual Daging: Tau’ le, kiapa stow....(sambil memotong-motong daging jualannya)
Sadiki le stow.
Penjual Ikan I : Ih, io kang. Perasaan dari tadi babagini jo. Mungkin ada apa-apanya ini.
(Masuk orang gila)
Iblis : Dia milikku! (menunjuk pada orang gila)
Penjual Ikan II : So jam bagini baru satu tu mo ba bli?!
Orang Gila : (berjalan di antara penjual)
Skarang ini! Sapa kita? (sambil berteriak-berteriak)
Skarang ini! Sapa ngana?
Io, skarang! (meyakinkan)
Skarang ini!...(marah)
Skarang-skarang!...(lebih meyakinkan)
Masa biasa-biasa jo....?!
Ya sudah... (terduduk di pojok)
(masuk Asongan I dan II. Asongan II kepala dan tangannya di perban)
Penjual Ikan II : Kita pe kira le orang waras. (tersenyum)
P. S. II : (kepada orang gila) Heh...pi sana ngana! Heh!......Heh!
Penjual Buah II: Eh....jangan, kong dia lempar le pa torang no, nda soe!
Penjual Ikan I : Dia ini orang pa torang. Dia kwa stress lantaran de pe maitua da mati ta tindis deng longsor.
Asongan I : Kiapa di sini pe sepi?
Penjual Sayur : Nintau le ini, kiapa stow.
Asongan II : Io kang, rupa nyanda ada orang ba bli.
Penjual Buah II: Kiapa dang ngana? Ada jatung? (kepada asongan II)
Asongan II : Oh...nyanda.
Asongan I : Dia pe papa ada pukul katu.
Penjual Sayur : Kasiang....
Penjual Buah II: Sampe ancor-ancor bagitu?
Asongan I : Yah, de pe papa memang bagitu. Panjaha skali.
Penjual Sayur : Kiapa kwa nyanda lapor polisi?! (sinis)
Asogan II : Ngana kwa pe karlota skali e... (menggerutu kepada Asongan I)
Ah...biar jo nanti Tuhan yang balas.
Semua : Butul itu.
Iblis : Kemunafikan!
Penjual Ikan I : Ngoni da kamari tadi dang, nyanda lia ada tanda-tanda apa ke’?
Asongan I : Nyada no, torang da lewat di muka situ biasa-biasa jo. Oto-oto mancari rupa biasa.
Asongan II : Mar, memang nyanda dapa lia ada penumpang turung mo ka mari.
Penjual Buah : Ada apa ini e....?
Penjual Ikan II : Ato ni hari ada acara basar stow. Walikota mo se makang ni satu kota, jadi orang-orang so nyanda mo momasa di rumah.
(Masuk Anak Penjual Sayur (A.P. S.) menghampiri ibunya)
Penjual Ikan I : Ah, ngana le so talalu mendramatisir tu keadaan.
Asongan I : Hah! Napa dang!. (setelah melihat A. P. S.)
Penjual Sayur : Hi? (terkejut melihat A.P.S.)
A. P. S. : Huh, Pe stenga mati do kita ada cari ini ma’ pe tampa ini, sampe so ta putar-putar kita.
Penjual Sayur : Kiapa ngana di sini?
A. P. S. : Mo cari pa ma’, no.
Penjual Sayur : Kiapa?
A. P. S. : Sudah! Kita somo ba jual sayor sama-sama deng ma’ jo.
Penjual Sayur : Dari kong kiapa?
A. P. S. : Napa kwa ni pa’, kita ada minta akang doi mo bli minya, nyanda kase kong ba feto le. So tau-tau tu konfor somo abis minya.
Penjual Sayur : (kepada Penjual Buah) Ini no kita pe nona.
Penjual Buah : Oh....
A. P. S. : Pokoknya kita mo ba jual jo! (duduk di sebelah ibunya)
Penjual Sayur : Ngana pe pa’ da veto bagimana, so?
A. P. S. : Pa’ bilang kata kita cuma buang-buang doi jo bli minya deng bahan, lantaran banya faktor hyuman errornya....
Penjual Sayur : Maksudnya?
A. P. S. : Namanya juga kan blajar, pasti musti ada faktor...angus-angus itu.......
Pokoknya kita mo bajual jo!
(spontan) Heh?! Mar, Ma’ rupa nyanda ada orang ba bli ini kang? Kiapa?
(masuk Opa)
Penjual Sayur : Itu le, somo amper satu hari torang di sini, nyanda ada orang ba bli biar satu. Nintau le kiapa stow.
A. P. S. : Ah, ini dang. (setelah melihat Opa)
Penjual Daging: Yah, ini opa ini kwa cuma ja datang bacirita. Dia katu kan so kurang tinggal sandiri, jadi mo cari tamang bacirita. Hari-hari dia bagitu.
Penjual ikan I : Opa, nyanda mo lia ikang?
Opa : Mau liat sayor dulu.
(kepada Penjual Sayur II) Brapa ini ngana pe kangkong satu ika?
P.S. II : Saribu lima ratus opa.
Opa : Ado, mahal sekali!
P.S.II : Yah, sala-sala kasiang opa, torang pe kobong kanal banjer, kong cuma sadiki sayor yang slamat. Yah... opa mangarti akang jo. Mo ambe brapa ika so opa?
Opa : Yah talalu mahal kwa itu. Masih untung ngana pe sayor ada yang slamat, saya punya rumah, hele seng nda selamat. Tiga ribu saja tiga ika.
P.S.II : Nda dapa kasiang opa, torang pe penghasilan cuma dari sini...Ampa ribu jo tiga ika.
Opa : So langganan le kwa, kase jo.
Orang Gila : Skarang ini! Sapa kita? (sambil berteriak-berteriak)
Skarang ini! Sapa ngana?
Io, skarang! (meyakinkan)
Skarang ini!...(marah)
Skarang-skarang!...(lebih meyakinkan)
Masa biasa-biasa jo....?!
Ya sudah...
(kembali duduk, di pojok yang lain dari tempat semula)
Opa : Kenapa dia?....(P. S. II menjawab dengan memberi isyarat)
Saya kira kompeni...
Bae le waktu prang saya punya jantong sudah biasa dengar suara bom deng snapan.
Jadi so nyanda kage.
P.S. II : O...bagitu e.... ?!
Tiga stenga jo tiga ika opa.
Opa : Aw...tiga ribu saja, harga pengertian.
P.S. II : Ambe jo dang. ( langsung membungkus sayur dan memberikannya pada Opa)
(Setelah menerima bungkusan dan membayarnya Opa berjalan ke arah Penjual Ikan II)
Penjual Ikan I : Opa lantaran opa pembeli pertama jadi kita mo kase diskon.
Opa : Oh iya, dari tadi saya tidak lihat pembeli yang laeng?
Penjual Ikan I : Io, pokoknya dari pe buka sampe skarang ini baru opa no tu pembeli.
Opa : Oh...pantas dari tadi saya merasa seperti berada di jaman Permesta, soalnya ini suasana ini memang persis jaman itu. Dulu itu ......
(Masuk Anak Berseragam Sekolah [A. B. S.])
Penjual Ikan I : (langsung memotong pembicaraan opa) Ado opa somo mulai le deng opa pe sejarah. Opa mo ambe apa? Samua bebas dari formalin.
Opa : Ini tude jo dua.
Penjual Ikan I : Dua ribu opa.
(Setelah membayar dan mengambil bungkusan dari Penjual ikan I Opa pindah ke penjual yang lain, dan begitu seterusnya hingga ke semua penjual)
Asongan I : (kepada A. B. S.) Kiapa? Cari apa ngana?
A. B. S. : Ada lia kita pe doi? (sambil mencari-cari)
Ada ciri di bagian sini.
Asongan I : Yah....nyanda.....
Brapa so?
A. B. S. : Lima belas ribu.
Aduh.... di mana itu eee....?
Asongan II : Kiapa?
Asongan I : Dia pe doi kata ada ciri di sekitar sini.
Asongan II : Brapa?
Asongan I : Lima belas ribu kata.
A. B. S. : Doi spuluh ribu deng lima ribu ada gulung satu kali.
Aduh mo dapa marah kita. Itu dia doi SPP.
Asongan II : Baru ada ciri ato so dari tadi? (Berusaha mencari)
Kage ada lupa di rumah sto kwa.
A. B. S. : Nyanda no, tadi pas kita ada lewat di sini kita....
Opa : Kenapa dia? (kepada Asongan II)
Asongan I & II: Dia pe doi kata da ciri.
Opa : Berapa?
A. B. S. : Lima blas ribu. Doi skola kwa itu.
Opa : O....
A. B. S. : Aduh....bagimana ini?!
(Berjalan meninggalkan panggung)
Opa : O..tunggu....(sambil merogoh kantongnya)
(kepada Asongan I dan II) Pengge akang pa dia.
Asongan I&II : Woy.....woy....
He.....napa kata tu opa mo kase.
A. B. S. : Io?
Asongan I : Io, napa dang.
Opa : Ini. (sambil memberikan uang Rp. 15.000 kepada A. B. S.)
Mar ngana musti skola bae-bae.
Iblis : Kebodohan dan kesombongan! Dia milikku. (dengan bangga)
A. B. S. : Aduh trima kase banya dang opa.
(Keluar Iblis)
Opa : Saya dulu mo suka skola, mar lantaran prang, saya terpaksa angka snapan dulu baku prang dengan Blanda.
Penjual Ikan II : Hah, sudah so mulai ulang. (perlahan)
A. B. S. : Ma kase dang.
Opa : Ia....
A. B. S. : Somo pigi dang.
(Masuk Iblis, Preman-preman, dan Teroris dengan membawa bom)
Opa : Iya, bae-bae jangan ciri ulang.
(A. B. S. Keluar panggung)
Penjual Buah II: Opa, opa do pe bae-bae kang?!
Opa : Yah, memang so musti bagitu. Torang semua pe tujuan kan surga.
Jadi, yah, de pe jalan cuma kasih.
(Opa menghampiri penjual daging)
Iblis : Surga! Surga hanyalah sementara!
Nerakalah yang abadi!
Kerajaanku kokoh selamanya!
Kasih! Kasih hanyalah omong kosong pecundang!
Semuanya tunduk pada kebencian dan kesombongan.
(Teroris berjalan di kerumunan mencari tempat untuk melepaskan bom waktunya)
Preman I : (kepada penjual ikan II) Heh mari ngana pe cakalang dua ekor.
Penjual Ikan II: Yah, kasiang bos, blum ada yang laku le ini.
Iblis : Dusta dan....
Penjual Sayur : Io, ni hari blum ada yang ba bli.
Iblis : Dusta.
Preman II : Sudah, capat jo kase!
Penjual Ikan II : Yah, nimbole no bos, masih pagi-pagi bagini kwa.
Iblis : Kikir, mereka milikku!
(Sementara itu Penjual Daging terlihat sedang bercakap-cakap dengan Opa yang duduk di sampingnya)
Preman IV : Kase jo, for bos Tatoo pe hari jadi le kwa.
Penjual Ikan II : Yah, sala-sala no. (menunduk)
Preman III : Eh, ngana mo kase nyanda?! (menggenggam kerah baju Penjual Ikan II)
A. P. S. : Ma’, kiapa dorang?
Penjual Sayur : Dorang itu preman di sini, dorang pe karja jaga ba tagih pajak pa torang.
A. P. S. : Oh...(mengerti)
Mar ma’, tu satu rupa bole. Macho gitu loh.
Penjual Sayur : Hi...do do’, ngana ini dang.
Orang Gila : (berjalan di antara kerumunan)
Skarang ini! Sapa kita? (sambil berteriak-berteriak)
Skarang ini! Sapa ngana?
Io, skarang! (meyakinkan)
Skarang ini!...(marah)
Skarang-skarang!...(lebih meyakinkan)
Masa nintau....?!
Ya sudah... (mendekati para preman)
(Keluar teroris setelah meletakan bom yang di bawanya)
Preman II : Agh...apa ini? (Menghempaskan orang gila kelantai)
(Orang gila kembali duduk di pojok)
Penjual Ikan I : Napa, ambe kita punya jo.
(memberikan sekantong ikan pada Preman III)
Iblis : Lemah dan ketakutan, hua,ha,ha,ha.
Milikku!
Preman III : Mujur ngana. (menunjuk pada Penjual Ikan II)
Penjual II : Rupa payah di sini no, lebe bae kita pindah jo.
(keluar dengan membawa barang dagangannya)
(Para Preman menghampiri Penjual Buah, Penjual Sayur dan A.P.S.)
Preman IV : Torang mo ambe ini popaya jo e?!
Preman II : Oh, io pas mo beking buah segar.
Preman IV : Cewe’, minta tas plastik dang. (kepada Anak Penjual Sayur I)
Penjual Sayur : Yah, kasiang, kalu ngoni mo ambe ini, torang mo dapa doi dari mana le?!
A. P. S. : (dengan marah sambil berdiri) Pe sadap le ngoni. Datang-datang sampe.
Preman III : Heh, nona, jang beking sampe kita ta putar ontak e!
A. P. S. : Ngana pe ontak memang so ta putar stow kwa?!
Preman III : Aduh! Ngana ini kasiang! (menggertak akan memukul A. P. S.)
Penjual Daging: (berdiri, dengan marah) Ngoni so kurang sama deng tu kompeni?!
Ini so bukang zaman feodal.
Skarang ini so zaman moderen.
Ngoni masih pertahankan le tu status quo.
Memang kuno skali ngoni.
Iblis : Kesombongan! Dia milikku!
Preman I : Apa kata?
Preman III : Tau’ le.
Preman II : Apa stow.
(Para Preman menghampiri Penjual Daging)
Preman IV : Ngana le so kurang sama deng tu anggota dewan jo.
Kiapa ngana mo malawang pa torang?
Preman I : Sini ngana. (Menarik Penjual Daging keluar dari tempatnya kemudian memukulinya. Terjadi perkelahian antara Penjual Daging dan para Preman)
Iblis : Hua,ha,ha,ha,......
A. P. S. : Wey, stop jo!
(Semua Penjual bergegas mengurung para Preman)
Penjual Ikan : Kalu ngoni nyanda mo ba jao dari sini .....
Semua Penjual: Torang samua mo malawang pa ngoni!
(Preman I berhenti memukuli Penjual Daging yang sudah rebah)
Iblis : Ha,ha,ha...
Mereka semua milikku!
Semuanya milikku!
Ha,ha,ha,ha....
(medekati bom dan berusaha meledakkannya)
Preman III : Awas ngoni !!! (mengancam. Mundur perlahan)
(semua preman keluar panggung)
(Kecuali Orang Gila, semuanya mengelilingi Penjual Daging)
(Penjual Daging mengerang kesakitan)
A. P. S. : Yah, kasiang. (mendekati Penjual Daging)
Asongan II : Oh, pas napa pa kita ada yudium deng kapas. (memberikannya pada A. P. S.)
(Penjual lain mulai kembali ke tampatnya satu persatu)
(A. P. S. Membubuhi yudium pada luka-luka Penjual Daging)
Penjual I : Oh, kita somo pindah jo ah, kong dorang babale le no.
(Penjual I keluar sambil membawa barang dagangannya)
Opa : Lia pa ngoni dua ini, saya langsung ingat dulu waktu saya pertama kali baku dapa dengan saya punya istri, waktu itu saya sempat kena tembak di medan peperangan, kong....saya punya istri waktu itu yang bertugas sebagai perawat..., kong.....
A. P. S. : Oh, io kote.! (dengan tiba-tiba, sedikit salah tingkah langsung menghamiri ibunya setelah selesai merawat Penjual Daging)
Ma’ kita so lupa kase mati kote tu konfor di rumah. (Terburu-buru keluar)
Penjual Sayur : Hah?!
Opa : Saya juga somo pulang.
(berjalan dengan menenteng belanjaannya yang terlalu banyak)
Penjual Ikan I : Boleh opa? (bergegas membantu mengangkatkan barang belanjaan opa)
Opa : Boleh.
Iblis : Cukup! (berteriak)
(Bom meledak dengan suara yang menggelegar)
(Semuanya tewas, kecuali orang gila)
Orang Gila : Skarang!!! (histeris)
(langsung lari ke luar panggung sambil berteriak)
Iblis : Hua ha ha ha....
Semuanya milikku!
Semuanya milikku!
Semuanya milikku!!!
Ha ha ha ha....
(Iblis mencoba mengangkat orang-orang yang rebah namun tak satu pun dapat di angkatnya)
(masuk Paduan Suara Malaikat di bagian balkon kanan dan kiri atas panggung)
(masuk Malaikat)
Iblis : (setelah menyadari kekalahannya)
Ha ha ha ha....
Manusia dan dunia ini, seharusnya milikku! (dengan gusar, perlahan)
Mereka milikku!
Seharusnyalah menjadi milikku! (dengan berteriak, mencoba lagi mengangkat orang-orang yang rebah)
Malaikat : Tak satu pun milikmu!
Semuanya telah di tebus Putera Allah!
Iblis : Argh...... lagi-lagi! (dengan geram)
(Iblis keluar, Malaikat mulai mengangkat mereka satu persatu, dengan iringan nyanyian Paduan Suara Malaikat)
(Semua berjalan keluar dengan mengikuti Malaikat)
(Paduan Suara Malaikat keluar)
(masuk Orang Gila)
Orang Gila : Skarang!
Bukang nanti!
Skarang!
Bukang kalamaring!
Skarang!
Bukang beso’!
Skarang!
Bukang tadi!
Skarang!
Bukang sabantar!
Skarang!
Bukang baru-baru!
Skarang!
Bukang sadiki le!
Skarang, (jeda) ya skarang!
Io, skarang!
Skarang-skarang!!!
Selesai
Subscribe to:
Posts (Atom)
