Hans Liberty Makalew
Monday, November 30, 2020
Sinopsis Novel Roman Sang Waraney karya Hence Makalew (dengan nama pena Hans Liberty Makalew)
Tuesday, September 29, 2020
Wednesday, December 26, 2018
Friday, March 4, 2016
Sejarah Maesa, Spanyol, Belanda, Inggris dan Bajak Laut Manguindanao di Malesung
Sunday, October 4, 2015
Saturday, January 25, 2014
Wednesday, August 21, 2013
Four Seconds
Ten winters long, I locked my heart away, within a dreary castle, black and luxorious
Where endless dark nights and unceasing rainstorms did guard my broken heart, shattered by first love
Refusing that pain to return, I built fortress walls from the ruins of petrified dreams, placing logic upon every watchtower
Standing tall atop the keep, I vowed no love would enter before Kairos showed his face at the gate
Thus I forged the steel within, rising from ashes and dust,
Becoming a better man in strength and mind, through hard work and sacred trust
In the tenth year, the grand universe brought light into the castle
A soft light like a heavenly pillar, dancing in the center of the throne room where I embraced my sorrow
My restless eyes still searched for the face of Kairos, that Master Archer, yet upon your charm my eyes were locked, oh Light
You are the radiance that calmed the storm, and ended the endless pitch-black night
The most beautiful girl I have known, you arrived with an innocent smile and constant kindness
Your presence is a prayer I quietly enjoy, as the seeds of affection begin to bloom
You stole my heart, before I realized the sorrow was erased, gone without a trace
We exist in the same heavenly vibration, souls connected naturally
The same way of laughing, and a similar shape of the nose
You are the source of my brilliant inspirations, and the spirit that will never die
The universe showed its blessing through the way nature works—directing, then bringing closer, pushing, then dictating the consciousness—that your heart is the other half of this one
Yet logic, not having found the form of Time, still holds the reins to keep me from moving forward, though the heart continues to rebel
Then, fate and the universe began to diverge; someone else held your hand, and I stood silent as a spectator in a foreign land
Your pure virtue, the sacrifices and jealousy you showed, made me surrender and become captured without complaint
Then I awaited a reason in uncertainty, so no heart would be hurt
I only acted in stealth, announcing to the world, that you are my love until death
For years I was held, on the thin, agonizing line of friendship
After five years in yearning, you took my fingers in silence... gently
The world stopped, time froze at our fingertips, by your will
Our hearts, pulses, and breaths are in one harmonious rhythm
Without a sound, you revealed the secret stored long in the deepest depths of your heart
A truth stronger than words the tongue can speak, immediately wrapping me in the love I craved
I feel whole again, my inner eye opened, and my happiness is complete
The most beautiful reality: that you, the girl I love, are standing beside me, holding my fingers without words or gaze, declaring that I am your true first love
Four seconds... felt like forever...
I am your witness, to the steadfastness and courage you declared, driven by true love
That heavenly feeling has settled in my chest, inspiring me to the virtue you always hold firm
Like dharma, the way of the cross, and the path of knights, I pledge my life to you: Waiting until the path is pure, free from every blemish
I will not let any stain touch you, and I will not be the cause of others bleeding, or tasting the sorrow I once felt
Between time and fate that continue to race, I stake my hope upon sacrifice and regret, that you will surely find the reason
Sunday, April 14, 2013
Empat Detik
Sepuluh musim dingin lamanya aku mengunci hati dalam kemegahan kastil hitam
Di tengah selubung malam kelam tak bertepi dan hujan badai tanpa akhir, hatiku yang patah oleh cinta pertama menemukan ketenangan
Menolak luka itu datang kembali, kubangun tembok benteng dari reruntuhan angan yang membatu, dan menaruh logika pada setiap menara pengintai
Dari dalam altar singgasanaku, bersumpah tak akan ada lagi cinta yang datang sebelum Kairos, sang Raja Waktu, menampakan wajahnya di depan gerbang
Demikianlah kutempa baja batinku, bangkit dari abu dan debu, menjadi pria yang lebih baik dalam kekuatan dan pikiran
Di tahun kesepuluh, Semesta Yang Agung membawa cahaya ke dalam kastil
Cahaya lembut bagai pilar sorgawi, menari di tengah-tengah balairung singgasana tempatku mendekap nestapa
Mata gelisahku masih mencari-cari wajah Kairos, namun pada pesonamulah mataku terkunci, wahai sang Cahaya
Kau adalah terang yang meredakan hujan badai, dan yang mengakhiri malam pekat tak bertepi
Gadis tercantik dari semua yang kukenal, kau hadir dengan senyuman polos dan kebaikan hati yang konstan
Hadirmu adalah doa yang diam-diam ku nikmati, seiring benih rasa mulai bersemi
Engkau mencuri hatiku, sebelum kusadari nestapa itu telah terhapus, habis tak membekas
Kita ada dalam getaran sorgawi yang sama, jiwa yang terhubung secara alami
Cara tertawa yang sama, dan bentuk hidung yang serupa
Kaulah sumber inspirasi-inspirasi gemilangku, dan semangat yang tak akan pernah mati
Semesta pun menunjukan restu melalui cara alam bekerja, mengarahkan, lalu mendekatkan, mendorong, lalu mendikte kesadaran, bahwa hatimu adalah separuh dari hati ini
Namun logika yang belum menemukan kehadiran sang Raja Waktu, masih menahan tali kekang agar tak maju, walaupun hati terus berontak
Lalu, takdir dan semesta mulai tak sejalan, seseorang menggenggam tanganmu, dan aku terdiam sebagai penonton di tanah asing
Kebajikanmu yang murni, pengorbanan-pengorbanan dan kecemburuan yang kau tunjukan, membuatku menyerah dan tertawan tanpa mengeluh
Lalu kunantikan alasan dalam ketidak-pastian agar tak ada hati yang tersakiti
Aku hanya bergerilya, mengumumkan kepada dunia, bahwa kau adalah cinta sampai matiku
Bertahun-tahun aku tertahan, di garis tipis persahabatan yang menyiksa angan
Hari ini, kau raih jemariku dalam hening.. lembut
Dunia terhenti, waktu membeku di ujung jemari kita, atas kehendakmu
Jantung, nadi dan nafas kita berada dalam satu irama harmoni
Tanpa suara, kau ungkap rahasia yang tersimpan lama di relung terdalam hatimu
Sebuah kebenaran yang lebih kuat dari kata-kata yang dapat diucapkan lidah, segera membungkusku dengan perasaan cinta yang kudambakan
Aku merasa utuh kembali, mata batinku terbuka dan kebahagiaanku penuh
Sebuah kenyataan terindah bahwa engkau gadis yang kucinta sedang berdiri di sampingku, menggenggam jemariku tanpa kata dan tatapan, menyatakan bahwa akulah cinta sejati pertamamu
Empat detik....terasa seperti selamanya...
Aku adalah saksimu, atas keteguhan dan keberanian yang engkau nyatakan atas dorongan cinta sejati
Perasaan sorgawi itu telah bersemayam di dada, lalu menginspirasiku pada kebajikan yang selalu kau pegang teguh
Laksana darma, jalan salib dan jalan para ksatria, aku ikrarkan hidupku padamu: Menanti hingga jalannya murni, bebas dari setiap cela
Takkan kubiarkan ada noda yang menyentuhmu, dan aku tak akan menjadi penyebab orang tak bersalah berdarah, atau mengecap duka yang pernah kurasa
Di antara waktu dan takdir yang terus berpacu, kupertaruhkan harapan di atas pengorbanan dan penyesalan, bahwa kau pasti akan menemukan alasan, agar cinta kita tetap sejati, tak bercela
Thursday, April 4, 2013
Testimony
I got Tuberculosis, and God made me capable to work in his field.
I am healed now by His grace, and I still work in His field.
I believe...



