Sunday, April 14, 2013

Empat Detik

Sepuluh musim dingin lamanya aku mengunci hati dalam kemegahan kastil hitam..

Di tengah selubung malam kelam tak bertepi dan hujan badai tanpa akhir, hatiku yang patah oleh cinta pertama menemukan ketenangan..

Menolak luka itu datang kembali, kubangun tembok benteng dari reruntuhan angan yang membatu, dan menaruh logika pada setiap menara pengintai..

Dari dalam altar singgasanaku, bersumpah tak akan ada lagi cinta yang datang sebelum Kairos, sang Raja Waktu, menampakan wajahnya di depan gerbang..

Demikianlah kutempa baja batinku, bangkit dari abu dan debu, menjadi pria yang lebih baik dalam kekuatan dan pikiran..

Di tahun kesepuluh, Semesta Yang Agung membawa cahaya ke dalam kastil..

Cahaya lembut bagai pilar sorgawi, menari di tengah-tengah balairung singgasana tempatku mendekap nestapa..

Mata gelisahku masih mencari-cari wajah Kairos, namun pada pesonamulah pandanganku terkunci, wahai sang Cahaya..

Kau adalah terang yang meredakan hujan badai, dan yang mengakhiri malam pekat tak bertepi..

Gadis tercantik dari semua yang kukenal, kau hadir dengan senyuman polos dan kebaikan hati yang konstan..

Hadirmu adalah doa yang diam-diam ku nikmati, seiring benih rasa mulai bersemi..

Engkau mencuri hatiku, sebelum kusadari nestapa itu telah terhapus, habis tak membekas..

Kita ada dalam getaran sorgawi yang sama, jiwa yang terhubung secara alami..

Cara tertawa yang sama, dan bahkan bentuk hidung yang serupa..

Kaulah sumber inspirasi-inspirasi gemilangku, dan semangat yang tak akan pernah mati..

Semesta pun menunjukan restu melalui cara alam bekerja, mengarahkan, lalu mendekatkan, mendorong, lalu mendikte kesadaran, bahwa hatimu adalah separuh dari hati ini..

Namun logika yang belum menemukan kehadiran sang Raja Waktu, masih menahan tali kekang agar tak maju, walaupun hati terus berontak..

Aku hanya bergerilya, mengumumkan kepada dunia, bahwa kau adalah cinta sampai matiku..

Lalu, takdir dan semesta mulai tak sejalan, seseorang menggenggam tanganmu, dan aku terdiam sebagai penonton di tanah asing..

Kebajikanmu yang murni, pengorbanan-pengorbanan dan kecemburuan yang kau tunjukan, membuatku menyerah dan tertawan tanpa mengeluh..

Lalu kunantikan alasan dalam ketidak-pastian agar tak ada hati yang tersakiti..

Bertahun-tahun aku tertahan, di garis tipis persahabatan yang menyiksa angan..


Hari ini, kau raih jemariku dalam hening..lembut..

Dunia terhenti, waktu membeku di ujung jemari kita, atas kehendakmu..

Jantung, nadi dan nafas kita berada dalam satu irama harmoni..

Tanpa suara, kau ungkap rahasia yang tersimpan lama di relung terdalam hatimu..

Sebuah ungkapan yang menembus dimensi ruang dan waktu..

Sebuah kenyataan terindah bahwa engkau gadis yang kucinta sedang berdiri di sampingku, menggenggam jemariku tanpa kata dan tatapan, menyatakan bahwa akulah cinta sejati pertamamu..

Sebuah kebenaran yang lebih kuat dari kata-kata yang dapat diucapkan lidah, segera membungkusku dengan perasaan cinta yang kudambakan..

Aku merasa utuh kembali, mata batinku terbuka dan kebahagiaanku penuh..

Empat detik....terasa seperti selamanya...

Aku adalah saksimu, atas keteguhan dan keberanian yang engkau nyatakan atas dorongan cinta sejati..

Perasaan sorgawi itu telah bersemayam di dada, lalu menginspirasiku pada kebajikan yang selalu kau pegang teguh..

Laksana darma, jalan salib dan jalan para ksatria, aku ikrarkan hidupku padamu: Menanti hingga jalannya murni, bebas dari setiap cela, dan kau tak bersalah..

Takkan kubiarkan ada noda yang menyentuhmu, dan aku tak akan menjadi penyebab orang tak bersalah berdarah, atau mengecap duka yang pernah kurasa

Di antara waktu dan takdir yang terus berpacu, kupertaruhkan harapan di atas pengorbanan dan penyesalan, bahwa kau pasti akan menemukan alasan, agar cinta ini tetap sejati, tak bercela

No comments: